Pakar Falak Internasional Bahas Penyatuan Kalender Islam

Pakar Falak Internasional Bahas Penyatuan Kalender Islam

- detikNews
Selasa, 04 Sep 2007 19:52 WIB
Jakarta - PP Muhamamdiyah menggelar simposium internasional sebagai upaya penyatuan (unifikasi) kalender Islam internasional. Simposium yang diikuti berbagai kalangan muslim dan lembaga ini menghadirkan para pakar falak dari berbagai negara. Acara digelar di Hotel Sahid Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, mulai Selasa (4/9/2007). Rencananya, simposium akan dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun, hingga pukul 19.43 WIB, acara belum juga dimulai, meski para undangan sudah memenuhi Puri Sahid Jaya. Simposium ini akan berakhir pada 6 September 2007. Sejumlah tokoh hadir dalam pembukaan acara ini. Sudah tampak Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, anggota DPR Ali Mochtar Ngabalin, Dirjen Binmas Islam Departemen Agama Nazaruddin Umar, dan sejumlah tokoh Islam. Menteri Agama Maftuh Basyuni juga direncanakan hadir. Ketua Panitia Simposium Dr Susiknan Azhari MA menyatakan simposium ini sangat penting untuk mencapai kesatuan pendapat dan pandangan tentang perlunya membuat suatu sistem penanggalan Islam terpadu. "Tidak saja guna mengesampingkan unsur-unsur perpecahan dalam menentukan hari-hari besar keagamaan, tapi lebih luas lagi sebagai titik tolak bagi kesatuan umat yang menyeluruh secara sosial, budaya, ekonomi dan politik dalam konstelasi gerak globalisasi dunia yang sedang melanda dunia kontemporer kita," kata dia.Menurut Susiknan, kalender hijriyah itu merupakan satu kesatuan, yakni dimulai dari Muharram hingga Dzulhijjah. Sayangnya respons masyarakat muslim hanya terfokus pada bulan Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. "Jika kondisi ini terus berlangsung akan muncul keanehan dalam struktur dan format kalender hijriyah nasional maupun internasional," ujar dia. Dia mencontohkan adanya pertanyaan dalam benak masyarakat, kapan puasa Arafah bagi kaum muslim yang sedang berada di luar Padang Arafah. Apakah puasa dilaksanakan pada hari sesuai dengan hari saat wukuf di Arafah atau pada hari sesuai dengan kalender yang ditetapkan di negara masing-masing."Dengan kata lain, apakah puasa Arafah bagi orang yang tidak melaksanakan haji harus dilaksanakan pada hari yang sama atau boleh dikerjakan lebih dulu atau lebih kemudian dari hari dilaksanakan wukuf secara faktual. Artinya puasa Arafah 9 Dzulhijjah apakah sesuai kalender pada tempat masing-masing?" tanya dia. Hal semacam ini akan dibahas dalam simposium ini. Pertemuan akan dihadiri para ahli di bidang ahli falak syar'i dan falak ilmi dari berbagai negara. Antara lain Prof Dr Mohammad Ilyas dari Malaysia, Prof Dr Mohammad Ahmad Sulaiman dari Mesir, Prof Dr Syamsul Anwar dari Indonesia, Dr Muhammad Syawkat Odeh dari Emirat Arab, Dr Jamaluddin Abdurraziq dari Maroko, Dr Monzur Ahmed dari Inggris, Dr Zaki al-Mustafa dari Arab Saudi, Dr Muji Raharto dari Indonesia, dan Dr S Farid Ruskandar dari Indonesia.Acara simposium akan dihadiri sekitar 500 undangan. Di antara mereka adalah perwakilan ormas-ormas Islam, termasuk jajaran pengurus Muhammadiyah, baik di dalam negeri maupun luar negeri. (asy/ary)


Berita Terkait