H+2 Bentrokan,Nabire Kondusif
Selasa, 04 Sep 2007 15:53 WIB
Jakarta - Kondisi Nabire, Papua, kini mulai kondusif, setelah sempat mencekam akibat bentrokan antarkelompok pada Senin 3 September lalu."Situasinya sudah dapat diatasi oleh aparat Polres setempat, sekarang sudah kondusif, tidak ada siaga 1," kata Kabid Humas Polda Maluku AKBP Agus saat dihubungi wartawan, Selasa (4/9/2007). Agus lalu menjelaskan kejadian ini sebenarnya berawal dari kesalahpahaman karena rasa ingin membela rekan mereka. "Padahal sebelumnya sudah terjadi perdamaian di Polres, tetapi karena ada pihak-pihak yang bertanggung jawab situasi menjadi panas kembali," imbuh Agus. Keributan terjadi pada Minggu malam, 2 September yang menyebabkan rusaknya sejumlah bangunan di Pasar Karang Tumaritis. "Saat perdamaian dilakukan ada isu bahwa teman mereka dari salah satu kelompok dipukuli, maka itulah yang menyebabkan situasi memanas," jelas Agus. Agus mengakui setelah pecah keributan itu memang polisi sempat meminta bantuan TNI. "Agar situasi keributan bisa segera di atasi dan tidak meluas," imbuhnya. Keributan bisa diredam pada Senin 3 September 2007 pukul 10.00 WIT. "Sekarang kita cari siapa provokatornya," ujar Agus. Peristiwa ini bermula pada Minggu 2 September pukul 16.30 WIT. Saat itu seorang pemuda bernama Obeth Mote mencuri buah salak di kebun belakang rumah Darman. Saat itu istri Darman, Suryati, mengetahui kejadian itu lalu menegur namun dibalas dengan lemparan botol yang mengenai kepala bagian belakang anaknya yang bernama Rian. Obeth lantas melarikan diri, namun para pemuda di sekitar rumah korban menangkap dan sempat memukul pelaku. Kedua belah pihak pun sempat didamaikan di Mapolres Nabire, namun berkembang isu lain bahwa ada warga asli yang dipukuli sopir angkot. "Ada orang yang tidak bertanggung jawab yang menyebarkan isu ini, orang inilah yang sekarang kita cari," tegas Agus. Hingga kemudian pecahlah keributan antarkelompok yang berujung pada perusakan Pasar Karang Tumaritis yang kebanyakan didiami warga pendatang. Keributan itu berlanjut hingga malam hari dan kemudian dapat didamaikan pada Senin 3 September pukul 10.00 WIT. "Situasi bisa diredam dengan proses perdamaian kembali," urai Agus. Akibat keributan ini pun beberapa korban mengalami luka-luka. Mereka yakni Yusuf Tebai yang terkena lemparan batu pada pelipis, Martin Pigai, terkena tembakan senapan angin di lengan kiri, Periadi kena tembak senapan angin bahu kiri, Safar terkena panah pada betis kanan, Hendra terkena panah pada perut bagian kiri, Laode Hamsahul terkena panah pada pinggang kiri, dan Slamet Effendi terkena panah pada pinggang bagian kanan. "Ini bukan keributan antarmasyarakat asli Papua dan pendatang, tapi murni antarkelompok," tandas Agus.
(ndr/nrl)











































