Menyambangi Ufuk Timur Nusantara

Menyambangi Ufuk Timur Nusantara

- detikNews
Selasa, 04 Sep 2007 09:15 WIB
Menyambangi Ufuk Timur Nusantara
Merauke - Langit saat itu begitu cerah. Butuh sekitar 2 jam berkendara roda empat dengan kecepatan 60-80 km per jam dari mulut hutan pedalaman untuk mencapai ufuk timur Nusantara.Sayang memang, perjalanan menyambangi titik terujung bagian timur Indonesia dilakukan pada siang menjelang sore hari. Saat yang tepat menikmatinya tentulah ketika mentari muncul. Sebab di tempat itulah momen sang mentari mulai menghapus kegelapan malam dan menyinari Tanah Air.Tapi tak mengapalah. Pemandangan menyusuri hutan di Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua pada Kamis 30 Agustus 2007, juga cukup menyenangkan.Isi hutan berupa vegetasi savana, hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan rawa sagu yang cukup luas. Tumbuhan api-api, tancang, ketapang, dan kayu putih mendominasi hutan.Ratusan sarang semut dengan ketinggian beragam hingga 5 meter tampak berdiri megah di sela-sela pepohonan berbatang kurus-kurus.Tercatat juga ada satwa kangguru pohon, kesturi raja, kasuari gelambir, dara mahkota/mambruk, cendrawasih kuning besar, cendrawasih raja, cendrawasih merah, buaya air tawar, dan buaya air asin di hutan tersebut. Namun saat itu tidak ada satwa yang memamerkan dirinya.Jalanan beraspal yang dilalui kendaraan roda empat cukup mulus. Tapi jika mengantuk, tetap tak akan bisa tidur nyenyak. Sebab di sejumlah titik, jalanan bopeng-bopeng membuat penumpang ajrut-ajrutan terlonjak dari kursi mobil.Begitu mencapai titik 5.200 KM, sekitar 80 km dari Kota Merauke, terlihatlah tugu putih sederhana setinggi sekitar 1,5 meter. Itulah titik ujung paling timur republik negara kepulauan ini.Tugu itu merupakan tanda perbatasan RI dengan Papua Nugini (PNG) yang berada di wilayah Distrik Sota, Merauke, Papua. Suasananya tampak asri dan apik dengan satu pohon berdaun rimbun nan teduh dan satu sarang semut setinggi sekitar 2,5 meter.Sejumlah personel TNI tampak berjaga-jaga dengan senjata laras panjang. Tampangnya lumayan angker dengan mata waspada dan tidak banyak cakap, namun sikapnya cukup ramah."Seratusan meter dari tugu ini ada tapal batasnya. Lalu seratusan meter ke depan barulah ada tugu perbatasan milik Papua Nugini. Nah, daerah antara kedua tugu ini merupakan zona bebas," jelas personel TNI penjaga perbatasan yang tidak bersedia disebutkan namanya kepada detikcom.Rasa penasaran melangkah ke tapal batas pun menyergap, namun ragu juga kalau sendirian. Untung saja Menneg PDT Lukman Edi juga penasaran. Dengan ditemani Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze dan pengawalan personel TNI, rombongan Pak Menteri pun melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak hutan menuju tapal batas."Wah kita sudah ada di Papua Nugini nih, di luar negeri loh," seru para peserta rombongan sambil tertawa riang begitu mendapati tapal batas dan berjalan melewatinya.Kesempatan itu pun tidak dilewatkan begitu saja untuk sibuk jeprat jepret ria, baik di tapal batas, maupun di tugu perbatasan, bahkan di sarang semut yang di lokasi tugu. Hanya kenangan berpose itu saja yang bisa dibawa pulang. Sebab tidak tersedia cindera mata."Di zona bebas inilah sering terjadi barter barang. Biasanya warga Papua Nugini membawa barang seperti dendeng rusa untuk ditukar dengan beras. Sebab beras di negara mereka harganya mahal. Terkadang mereka berjalan kaki atau naik sepeda," tutur Johanes.Para pelintas batas, lanjut dia, tak perlu membawa paspor. Mereka cukup mampir ke Kantor Imigrasi Sota untuk melaporkan data dan maksud kunjungan. Tidak hanya untuk kegiatan barter, ada juga pelintas batas dari Papua Nugini yang bertujuan untuk sekolah di SMK Sota."Tidak usah pakai paspor karena Papua dan Papua Nugini kan masih berhubungan saudara. Jadi Pak Menteri tak usah khawatir tidak bawa paspor meski sekarang sedang menginjak tanah Papua Nugini," canda Johanes disambut tawa Lukman Edi. (sss/ana)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads