Detik-detik Terakhir Kehidupan di Kolong Tol
Senin, 03 Sep 2007 16:44 WIB
Jakarta - Menyusuri kolong Tol Wiyoto Wiyono dari Pluit hingga Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang terlihat adalah wajah-wajah pasrah. Ribuan warga tengah menghitung hari, karena Selasa (4/9/2007) besok, tempat tinggal mereka akan digusur. Hampir semua warga menunjukan sikap pasrah, bingung, cemas. Wajah-wajah mereka tak enak dilihat. Ibu-ibu separuh baya hingga uzur, menunjukan wajah seragam: bingung."Belum dapat uang kerohiman (uang kompensasi) sebesar satu juta rupiah. Kalau mau digusur, ya bingung mau pindah ke mana," kata Tuminah (52), warga kolong tol Rawa Bebek, Penjaringan, Senin (3/9/2007). Ia tengah menunggui suaminya, Sartono (54) yang tengah mengantre memperoleh kerohiman di kantor kelurahan. Itu terlihat dari tanda cat semprot biru di daun pintu rumahnya. "Ini tanda yang lagi ngambil duit," tunjuk dia pada cat itu.Menurut dia, setelah tersiar kabar penggusuran, banyak tetangga yang panik, bingung mencari tempat tinggal. Bahkan ada beberapa yang sampai jatuh sakit."Ada yang sakit, bingung, stres. Saya orang kecil sih nurut saja. Diminta nyoblos SBY manut, suruh milih yang berkumis manut. Tapi ya tetap digusur juga," ucap dia sedih.Sama halnya dengan Ibrahim (55), warga kolong tol Rawa Bebek. Ia sudah biasa dengan penggusuran. Ia merasakan hingga dua kali digusur, yakni saat di Lapangan Tenis Pluit dan lahan kosong yang sekarang jadi Rusun Tanah Merah. "Saya yang mengurug tanah di bawah kolong tol ini. Itu tahun 1998, sehabis reformasi. Dulu sini rawa, tempat sampah. Saya sampai dikatain penunggu tikus. Lama kelamaan, ramai dan menjadi seperti ini," kata Ibrahim.Demikian pula warga kolong tol di bawah Jembatan Tiga dan Lodan. Bahkan di kedua tempat itu, warga sudah mengemasi barang-barangnya. Sebagian merobohkan gubuk-gubuknya."Daripada kena gusur, mending begini, ada yang bisa diselamatkan," kata Neneng (27) warga kolong tol Jembatan Tiga.Warga berharap, pengganti kolong tol lebih baik dan tidak jauh dari lokasi mata pencaharian. "Yang rusun Marunda, dengar dari orang yang pernah ke sana, air dan listrik belum ada," ucap Neneng.
(Ari/asy)











































