Pasang Iklan 'Jihad BLBI' Ismed Rogoh Rp 270 Juta & Rp 150 Juta

Pasang Iklan 'Jihad BLBI' Ismed Rogoh Rp 270 Juta & Rp 150 Juta

- detikNews
Senin, 03 Sep 2007 15:02 WIB
Pasang Iklan Jihad BLBI Ismed Rogoh Rp 270 Juta & Rp 150 Juta
Jakarta - Iklan "Jihad Melawan Koruptor BLBI" digugat para tokoh Islam yang nama dan tanda tangannya termuat dalam iklan tersebut. Iklan itu sendiri dimuat dengan ongkos yang tidak murah.Ketua Masyarakat Profesional Madani (MPM) Ismed Hasan Putro menceritakan, iklan jihad itu ada 2 versi. Versi pertama dibuat atas inisiatif MPM. Iklan itu ditandatangani oleh 11 tokoh lintas agama. Iklan dimuat di harian Kompas, majalah Tempo, Rakyat Merdeka, Bisnis Indonesia dan Jawa Pos. Dan karena iklan yang dia pasang masuk kategori iklan layanan masyarakat, maka Ismed mendapat diskon 50-80 persen dari tarif normal."Dari Kompas mendapat diskon 50%, Tempo 50%, Rakyat Merdeka 80%, Bisnis Indonesia 80%, Jawa Pos 60%. Total pemasangan ini senilai kurang lebih Rp 270 juta," beber Ismed pada detikcom, Senin (3/9/2007).Pemuatan iklan tersebut berlangsung mulus. Barulah pada iklan versi kedua memunculkan protes. Iklan yang didukung sepenuhnya oleh Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) dan MPM (keduanya pimpinan Ismed) serta Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) itu berisi 14 nama dan tanda tangan cendekiawan Muslim seperti Hasyim Muzadi dan Din Syamsuddin. Kedua orang ini merasa namanya dicatut. Menurut Ismed, iklan itu memicu protes karena menyebut dua obligor besar yang terlibat skandal BLBI, masing-masing senilai Rp 33 triliun dan Rp 28 triliun. Namun nama kedua obligor itu tidak disebut."Materi iklan itu datang dari ormas-ormas Islam dan Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP). Mereka datang menyodorkan gagasan untuk membuat iklan layanan masyarkat BLBI," terang Ismed.Iklan versi kedua itu dimuat di Majalah Tempo dengan mendapat diskon 50% dan bonus di Koran Tempo. Harian Republika memberi diskon 70%, dan Indopos diskon 70%. "Total pengeluaran sekitar Rp 150 juta," terang Ismed.PatunganDari mana Ismed mendapat uang yang cukup besar untuk memasang iklan tersebut? Untuk iklan pertama, murni diongkosi MPM sendiri. Sedangkan untuk iklan kedua, patungan dari ormas-ormas Islam dan MPM. "Tapi MPM porsinya lebih besar," ujar Ismed.Ismed menyatakan, sumber dana MPM juga jelas karena MPM beranggotakan kalangan profesional yang berduit, antara lain dari pasar modal dan konsultan bisnis, dan lain lain, yang secara rutin bersedia patungan untuk kepentingan bangsa.Uang kas MPM cukup banyak, bahkan saat musibah Tsunami 2004 lalu, MPM memberikan bantuan dengan nilai yang cukup besar. "Uang kami jelas datangnya, yaitu gotong royong atau patungan anggota," jelas Ismed."Saya juga bisnis kelapa sawit kecil-kecilan dan dua tahun ini ekspor limbah sawit ke Vietnam dan Korsel," demikian Ismed. (nrl/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait