Berguru ke Kerajaan Semut

Berguru ke Kerajaan Semut

- detikNews
Senin, 03 Sep 2007 10:12 WIB
Berguru ke Kerajaan Semut
Merauke - "Semut nan kecil saja bisa bikin karya besar, kenapa kita yang besar tak bisa berkarya," ucap pria bertubuh tinggi besar.Tak salah memang jika berguru ke kerajaan semut seperti halnya Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze.Siapa nyana, tubuh semut yang sedemikian mungilnya bisa bergotong-royong membangun sarang yang menjulang tinggi. Bagi yang belum pernah melihatnya, pastilah mengiranya sebagai bangunan candi nan unik.Tak tanggung-tanggung, sarang semut bisa mencapai ketinggian hingga 5 meter. Tidak hanya satu dua, ada ratusan sarang semut dengan beragam jenis dan ketinggian yang berdiri tegak di hutan pedalaman Papua di Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, seluas 413.800 hektar.Sementara rakyat Merauke yang masuk daftar 199 kabupaten tertinggal ini juga harus bekerja keras, bersatu padu, dan bergotong-royong untuk segera keluar dari status tersebut."Kalau semut saja bisa, kenapa kita manusia tidak bisa," ucap Johanes sebelum meneken MoU pengembangan investasi program Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) dengan PT Indonesia Makmur, disaksikan Menneg PDT Lukman Edi di Merauke, Papua, Kamis (30/8/2007).Johanes bercita-cita Merauke menjadi lumbung pangan Tanah Air. Apalagi mengingat Merauke merupakan kabupaten terluas di Indonesia dengan luas daratan 11.974.900 hektar dengan topografi datar."Merauke harus bisa kasih makan Republik ini. Pak Menteri sudah menanyakan kapan bisanya," ujar Johanes.Meski demikian, Johanes menyadari karakter dan kultur rakyat Merauke bukanlah bertani, melainkan berburu rusa dan buaya. Bahkan ketika diberi cangkul, rakyat Merauke malah mempereteli alat bercocok tanam itu menjadi busur dan anak panah untuk berburu."Baru mencangkul dua tiga kali, mereka sudah mau patah pinggang rasanya. Maklum, postur kami ini kan tinggi-tinggi," tutur Johanes sambil terkekeh.Johanes pun memotivasi dan meyakinkan rakyat Merauke betapa hasil pertanian bisa mengangkat harkat dan kesejahteraan hidup mereka. Dia membuka diri pada kehadiran transmigran dari Pulau Jawa yang memiliki kultur bercocok tanam."Supaya rakyat Merauke mencontoh mereka, bukan untuk ajang bersaing dan iri hati. Saya pun mengubah slogan 'dari kita oleh kita untuk kita' menjadi 'dari kita bersama orang lain untuk kita'. Ini demi kemajuan Merauke," ucap Johanes.Menargetkan hasil panen mencapai 10 juta ton per tahun, Merauke mengklaim kabupatennya sebagai 'Green Merauke, the rising city' yang disingkat menjadi Green Mercy. Ini bisa dicapai jika rakyat Merauke mau berguru ke kerajaan semut.Falsafah sarang semut yang disebut rakyat Merauke sebagai bomi ini memang patut menjadi pedoman hidup. Bukan untuk rakyat Merauke saja yang ingin keluar dari status tertinggal. Tapi juga semua manusia yang diciptakan lebih tinggi dan mulia dari semut. (sss/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads