Pakar: 'Apologize' Lebih Lazim daripada 'Deeply Regret'
Kamis, 30 Agu 2007 14:38 WIB
Jakarta - Bagi pakar hukum internasional dari UI, Hikmahanto Juwana, deeply regret bisa diartikan permintaan maaf, tergantung persepsi seseorang. Namun biasanya dunia diplomasi menggunakan kata apologize."Deeply regret itu sekarang tergantung persepsi kita. Biasanya permintaan maaf menggunakan apologize," ujar Hikmahanto kepada detikcom, Kamis (30/8/2007)."Sebenarnya deeply regret itu menyesalkan. Itu boleh dibilang hampir sama dengan permintaan maaf, karena dia menyesalkan peritiwa itu terjadi," imbuh Hikmahanto.Deeply regret bisa lebih dari sekadar permintaan maaf jika diikuti dengan tindak lanjutnya. Pada kasus pemukulan guru karate Donald Kolobita, Malaysia bisa saja menindaklanjuti dengan memproses secara hukum."Yang perlu adalah apa tindak lanjut dari deeply regret itu. Apakah proses hukum berjalan?" kata Dekan Fakultas Hukum UI itu.Menlu Malaysia Dato Seri Syed Hamid Albar menyatakan deeply regret atas peristiwa pemukulan itu saat menemui Presiden SBY 28 Agustus 2007 lalu. Dubes Malaysia Dato Zainal Abidin Muhammad Zain kemudian menyatakan ucapan itu sudah merupakan sebuah permintaan maaf di hadapan sejumlah wartawan di DPR hari ini.
(aba/asy)











































