Jasa Marga Merampok Hak Publik

Jasa Marga Merampok Hak Publik

- detikNews
Rabu, 29 Agu 2007 15:27 WIB
Jasa Marga Merampok Hak Publik
Jakarta - JORR yang sebelumnya disindir sebagai jalan ora rampung-rampung (Jalan tidak kelar-kelar) kini memicu kontroversi karena banyak pelanggan harus merogok kocek lebih dalam lagi.Berikut ini suara mereka, Rabu (29/8/2007):SatyaSelain merampok masyarakat pengguna jalan tol, dengan memanfaatkan justifikasi jauh-dekat sama (padahal, justru yang harus dilihat adalah keuntungan yang didapat, dari jalan tol yang sudah dibangun sejak lama, yang berhasil dinaikkan sampai dengan 600%). Ruas tol jarak pendek dari kantong-kantong perumahan, memiliki jumlah pelanggan yang jauh lebih besar daripada ruas jauh (Cilincing - Ulujami/Jatiwarna-Ulujami). Dengan menyamaratakan tarif, Jasa Marga telah membohongi pemerintah dan juga publik, bahwa kenaikan rata-rata adalah 20 persen. Juga dengan sombongnya disosialisasikan bahwa untuk jarak dekat lewat saja jalan arteri. Yang terjadi, dengan adanya penerapan pola terbuka, Jasa Marga telah merampok hak publik, dengan membiarkan antrean masuk ke jalan tol, memenuhi ruas jalan non-tol, dan menyumbangkan kemacetan pula di ruas non-tol.AdistynilasariMasa dari tol Jatibening ( Pondok Gede) keluar di Bintara yang biasanya Rp 1.500 sekarang jadi Rp 7.500, bener-bener ngga worth it banget dengan jarak yang dekat banget. Ditambah lagi sosialisasi mengenai kenaikan harga ini tidak di laksanakan dengan baik. Sebagai pengguna jalan tentu saja merasa kaget dan dirugikan, harusnya dengan kenaikan yang berlipat-lipat itu harus disosialisasikan dari jauh-jauh hari. Saya pribadi sebagai pengguna jalan tidak keberatan dengan kenaikan tersebut asal didukung juga dengan fasilitas yang lebih baik lagi dan juga tidak macet. Buat apa bayar mahal-mahal kalau tetep aja macet. Tapi sosialisasinya di perbaiki dong. Sarana komunikasi kan udah banyak kok nggak dipergunakan dengan baik sih?Vladi JimSaya adalah pengguna tetap setiap kerja tol rute BSD-Veteran. Saya selalu menyiapkan tarif tol Rp 10.000 untuk pulang-balik. Tetapi semalam (pukul. 22.30) saya kaget karena tiba-tiba harus mengeluarkan Rp 10.500 untuk sekali jalan. Naik lebih 100% untuk jarak yang relatif dekat. Sebetulnya ini bukan yang pertama kali ada kenaikan tanpa pemberitahuan.Sangat disayangkan karena lagi-lagi konsumen tidak pernah diajak bicara. Tidak pernah ada sosialisasi karena kalau ada pasti kita dikasih tahu pas pagi harinya. YudiMelalui wadah ini saya hanya ingin berbagi cerita mengenai perjalanan saya pagi tadi menuju kantor saya di Jl Jenderal Sudirman. Setiap pagi hari saya selalu melalui JORR (pintu tol Jatiwarna menuju Bambu Apus) karena memang itu merupakan akses saya menuju kantor. Nah pagi ini saya kaget melihat antrean sebelum masuk pintu tol Jatiwarna, ternyata banyak angkot dan mobil-mobil pribadi yang mundur dan putar balik menuju jalan lama (bukan tol) karena mereka harus membayar Rp 6.000 untuk jalan yang dilaluinya, baik mereka yang akan keluar di pintu tol Bambu Apus maupun pintu tol Dukuh (untuk pintu tol Dukuh tambah Rp 1.000). Bagi kami yang bertempat tinggal di sekitar Jatiwarna dan Jalan Hankam Raya dan sekitarnya merasa keberatan bilamana harus membayar Rp 6.000 (ebelumnya yang masuk dari Jatiwarna menuju Bambu Apus hanya Rp 1.000 dan dari Jatiwarna menuju Dukuh hanya Rp 3.000). Atas dasar permasalahan tersebut di atas, maka menurut hemat saya alangkah baiknya untuk jarak tempuh yang tidak terlalu jauh (ditentukan melalui kilometer yang dilalui) tetap mempergunakan tarif lama saja atau disesuaikan namun tidak Rp 6.000 agar unsur keadilan di dalam penggunaan jalan tol tetap terjaga. DonySaya setiap hari berangkat kantor dari Puri Gading melalui pintu tol Jatiwarna pukul 05.35, dan sudah sampai di Semanggi pukul 06.10, dan selalu lancar mulai dari Jatiwarna, Dukuh, TMII sampai kawasan Semanggi. Hari ini, pagi-pagi buta sudah dihadang kemacetan di pintu tol Jatiwarna plus sakit jantung ditagih Rp 6.000 plus bete lagi di pintu Dukuh 4 karena macet lagi, plus jantungan lagi karena musti nambah Rp 1.000 lagi. Kalau memang benar alasannya seperti yang saya baca yaitu untuk mengurangi biaya operasional pengelola tol alias mencari untung gede, ini sungguh keterlaluan. Karena yang dikorbankan orang banyak, karena harus bayar lebih mahal, kena macet berkali-kali, kualitas jalan yang lebih buruk daripada Jagorawi yang lebih bagus dan jauh, pemborosan BBM, dan jelas tidak akrab lingkungan karena polusi dan boros energi. Juga jangan lupa bahwa, jasa jalan umum seharusnya mengandung kepentingan publik dan pelayanan umum, bukan sekedar mencari untung gede. Rico SHari ini ada double kondisi yang nggak ngenakin pagi-pagi, pertama kenaikan tarif yang cukup edan sementara saya biasanya masuk dari tol Bintara keluar Cikarang hanya mengeluarkan kocek Rp 3.000, tapi sekarang harus keluar kocek sebesar Rp 9.000. Kedua, saya harus terlambat karena ketidaksiapan Jasa Marga dengan aturan bayar di pintu masuk dan membuat antrean yang panjang dikarenakan ada yang bertanya tentang kenaikan tersebut, ada yang memutar balik karena tidak rela dengan tarif yang diberlakukan, ada yang merogoh koceknya karena harus menambah jumlah uang dari biasanya. Cukup pintar juga ya para petinggi di Jasa Marga ini untuk meraup uang rakyat dan mereka cukup jeli juga untuk melobi para wakil rakyat agar disahkannya tarif tersebut. Kami sebagai rakyat kecil hanya bisa menerima nasib. Hhmmm dasar nasib.LiaSaya warga BSD, hari ini melewati tol BSD ke arah Pondok Indah, pukul 07.15 saya sampai di pintu tol Pondok Ranji (Bintaro) antrean sudah mencapai kurang lebih 1 km. Memang saya baca di detikcom hari Selasa 28/8/2007 bahwa akan ada kenaikan tarif tol, tapi tidak terbayang dalam benak saya bahwa tarif tol akan sama seperti slogan di Metro Mini "jauh dekat bayar sama". Biasanya saya hanya mengeluarkan uang 6.000 rupiah dari BSD sampai keluar tol Pondok Indah, tapi sekarang saya harus membayar 10.500 rupiah, terasa sekali berat membayarnya. Apalagi apa yang telah saya bayar tidak seimbang dengan apa yang saya dapatkan dari jalan tol BSD - Pondok Indah tersebut, jalanannya tidak semulus harapan saya, karena hal tersebut berpengaruh sekali pada kondisi ban dan kaki-kaki mobil saya, belum lagi kalau di malam hari di tol BSD - Pondok Indah tersebut masih ada lampu jalanan yang mati, terutama yang ke arah BSD, dan masih sering terlihat penduduk-penduduk di sekitar tol BSD - Pondok Indah lalu lalang nekat menyeberang di jalan tol tersebut.Sehingga menurut saya, kenaikan tarif tol benar-benar sama dengan slogan Metro Mini, "jauh dekat bayar sama" tapi fasilitas seadanya dan keselamatan dan keamanan penumpang tidak dijamin. Mohon pihak PT Jasa Marga mempertimbangkan kembali kenaikan tarif JORR dengan memperhatikan kelayakan jalan tol dan keselamatan pengguna jalan tol. F HardojoPagi ini kami heran karena antrean panjang pada gerbang tol Pd Aren padahal hari masih pagi, ternyata ada kenaikan tarif tol yang sangat mengejutkan kami. Saya yakin hampir semua pengguna tol dari BSD akan terkejut karena kenaikan tarif yang luar biasa. Setiap pagi saya masuk dari pintu tol Pd Aren dengan membayar Rp 3.000, setelah itu keluar di pintu tol Veteran dengan membayar lagi Rp 2.000, jadi total Rp 5.000.Tapi hari ini kami benar-benar merasa dirampok dengan harus membayar Rp 10.500 tanpa bisa berbuat apa-apa. Apakah dengan jarak sedekat itu sepadan harga yang harus kami bayar? Mengapa tidak diberlakukan cara seperti sebelumnya, yaitu ada perbedaan antara keluar di tol Veteran atau di tol pintu Pondok Indah. Mengenai kenaikan harga kami memang tidak keberatan, tapi bukan dengan kenaikan yang 110% seperti ini. Kami sungguh sangat berharap pemerintah mau meninjau kembali keputusan ini demi kepentingan rakyak banyak.ChristiantoSaya merasa kecewa dengan diberlakukannya tarif tol baru sewaktu masuk pintu Tol Pondok Aren, di mana harus bayar Rp 10.500 (gol 1A). Setahu saya tarif tol yang diumumkan adalah dari Ulujami-Cikunir. Kenapa pemberlakuan tarif ini berimbas juga di pintu Tol Pondok Aren. Harusnya Jasa Marga atau intansi yang terkait, membangun pintu tol di Ulujami bukan dengan gampangnya menggunakan pintu tol Pondok Ranji sebagai gerbang tol Cikunir, sehingga diberlakukan tarif lama dan tarif JORR Cikunir.Saya merasa dirugikan sekali dengan tarif ini, yang semula saya keluar di Veteran (Tanah Kusir) hanya membayar total Rp 5.000 (Rp 3.000 dan Rp 2.000), sekarang disuruh bayar Rp 10.500. Kalaupun mau dilakukan sistem pembayaran terbuka, tolong dilakukan studi kelayakan dulu, berapa persen warga BSD, Bintaro, yang akan pergi sampai ke tol Cikampek? Tolong dipertimbangkan lagi bagi pengelola jalan tol, jangan mau untungnya saja biar BEP.Ade WahyuPagi ini saya masuk tol dari pintu Veteran harus bayar Rp 6.000 saya tanya apakah di pintu keluar bayar lagi? Petugas bilang "tidak tahu" (bagaimana koordinasinya?). Lalu saya lanjutkan perjalanan, dan di tengah jalan ada spanduk bayar hanya di pintu masuk dengan tulisan keputusan menteri.Ternyata saat akan keluar di pintu Pondok Aren Bintaro ada kemacetan karena harus bayar lagi Rp 1.500, otomatis semua orang komplain dan keberatan, petugasnya hanya bilang "Maaf saya menjalankan tugas, saya tidak tahu."Bagaimana ini, sudah ganti menteri perhubungan yang baru kok peraturannya makin aneh dan tidak profesional? (nrl/umi)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads