Nunggak, 6.000 Warga Kota Kupang Terancam Pidana
Rabu, 29 Agu 2007 12:22 WIB
Kupang - Lebih dari 6.000 warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan penunggakan dana bantuan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang disalurkan melalui ratusan kelompok usaha bersama sejak tahun 2000-2007. Ribuan warga ini terancam pidana apabila dalam penyelidikan terbukti bersalah. Sikap tegas pemerintah ini dilakukan menyusul macetnya pengembalian dana tersebut setelah disalurkan. Dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir, tercatat sekitar 7.000 kelompok usaha penerima bantuan dengan total dana sebesar R p26 miliar dan baru Rp 7 miliar yang dikembalikan atau sekitar 27 persen dari total dana yang disalurkan. Sementara sisanya dikategorikan macet.Menurut Walikota Kupang Daniel Adoe di Kupang, Rabu (29/8/2007), pihaknya sudah menyampaikan masalah ini ke aparat keamanan untuk melakukan penyelidikan apabila sampai dengan batas waktu yang ditetapkan, ribuan warga penerima bantuan pemerintah tersebut belum melunasi tunggakannya. "Kami akan memberikan surat peringatan kepada masyarakat penerima dana sebanyak tiga kali. Dan apabila tidak diindahkan, maka masalah ini akan diselesaikan secara hukum. Kalau ada anggota keluarga saya yang termasuk sebagai penunggak, maka yang bersangkutan juga akan diproses. Biarkan hukum yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah," ujarnya. Dia menambahkan, pihaknya mendesak masyarakat penerima dana untuk mengembalikan dana tersebut karena akan digulirkan kepada kelompok usaha lain yang belum memperoleh bantuan. "Anehnya, bukan hanya masyarakat yang menerima, tetapi ada juga pegawai negeri sipil dan keluarga pejabat yang menerima tetapi tidak mau mengembalikan," kata dia. Sejumlah warga penerima bantuan yang dihubungi terpisah mengaku mengalami kesulitan untuk mengembalikan dana dimaksud karena gagal usaha. "Kami bukan menggelapkan bantuan itu. Tetapi usaha ayam potong yang kami jalankan mengalami kerugian terus menerus dan akhirnya bangkrut akibat serangan wabah penyakit," kata Dilama Malelak, warga Kelurahan Fontein, Kota Kupang.
(asy/asy)











































