Cikunir Beroperasi
Pengguna Tol: Hari Ini Luar Biasa!
Rabu, 29 Agu 2007 09:08 WIB
Jakarta - Peresmian tol Jatiasih-Cikunir yang menyempurnakan Jakarta Outer Ring Road (JORR) membuat pengguna tol hari ini bersorak: luar biasa! Maknanya ada dua, luar biasa macet dan luar biasa lancar.Berikut pengalaman para pembaca detikcom, Rabu (29/8/2007):NovriHari ini luar biasa. Di Bintaro, antrean masuk di pintu tol pondok Ranji (Bintaro Sektor 7) pagi tadi sekitar jam 6 pagi sudah sampai depan dealer BMW. Untuk sampai depan loket, butuh waktu sekitar 30 menit antre. Tarif naik gila-gilaan, kasihan yang mau jarak pendek ke arah Bintaro sektor 1, yang biasanya cuma Rp 1.500 jadi kena tarif flat Rp 7.500. Begitu juga yang ke arah Veteran atau Pondok Indah. Saya keluar di Cipete, biasanya kena Rp 4.500 sekarang juga Rp 7.500. Naiknya sangat signifikan. Masalahnya tol Ulujami-Pondok Ranji kalau malam sering sekali gelap gulita, lampu mati semua. Yang menyala hanya sekitar pintu tol Pondok Ranji, belum lagi banyak jalan yang bumpy dan perbaikan sangat lama. Pengelola tol juga tak pernah meng-educate masyarakat sekitar yang seringkali nyelonong menyeberang di tol, bahkan jogging. Rasanya kenaikan ini tidak layak, karena pengelola tol sama sekali tidak memenuhi kewajiban mendasarnya. SonySaya berkantor di Cibitung dan rumah di daerah Bintaro, agar sampai ke kantor jam 08:00 (kalau Cawang penuh, sampai jam 08:30) dari rumah berangkat jam 06:00, hari ini saya melewati tol Cikunir dan sampai kantor pukul 07:35, luar biasa! Dan terima kasih atas dibukanya tol ini.MulyaPagi ini macet di Jl TB Simatupang macet banget tidak seperti biasanya dan tidak pernah macet seperti itu. Saya kerja di Pondok Pinang keluar Pondok Pinang dengan tarif Rp 3.000 sekarang saya harus bayar Rp 6.000. Kalau pulang saya itu keluar di tol Cilandak dengan tarif tol Rp 2.000 sekarang saya harus membayar Rp 6.000. Tetapi teman saya bahagia sekali dari Pondok Gede biasanya Rp 9.000 sekarang hanya membayar Rp 6.000. So ada yang untung dan ada yang rugi.Bambang TriSaya pemakai rutin jalan tol Cikampek dan Pondok Indah. Dengan dibukanya tol JORR Cikunir mulai 28 Agustus 2007 banyak penghematan yang saya dapatkan. Kalau pengguna jalan tol lainnya banyak yang "sumpah serapah" dengan diberlakukannya tarif terbuka tol JORR, saya malah bersyukur. Dari segi tarif, yang biasanya Bekasi Timur (Grand Wisata) - Pondok Gede Timur Rp 2.500 dan Cawang - Pondok Labu Rp. 5.500 total menjadi Rp. 8.000. Sekarang dengan dibukanya tol JORR, maka tarif dari Grand Wisata ke Pondok Labu cukup Rp 7.000. Jadi hemat seribu rupiah. Pulang pergi kerja, berarti hemat dua ribu rupiah (hematnya kecil sih...).Dari segi waktu. Ini yang penting. Saya bisa hemat sampai lebih dari 30 menit. Biasanya waktu tempuh 1,5 - 2 jam, karena kena "pamer paha" (padat merayap tanpa harapan) di Pondok Gede Timur dan Cawang, sekarang relatif tidak ada macet lagi. Paling agak tersendat pada saat akan bayar di tol JORR Cikunir. Itu pun karena ada pembatas jalan dari arah tol Cikampek - Jakarta yang hanya bisa dilalui satu jalur kendaraan, sehingga membuat ketersendatan, dan banyaknya pengguna tol JORR yang bertanya ke petugas gerbang tol. Waktu tempuh saya pagi ini hanya 55 menit. Sampai kantor parkiran masih sepi. Saya duluan yang parkir kendaraan.Keuntungan lain, pasti dari segi pemakaian BBM dan jarak tempuh lebih hemat. Saya belum menghitung penghematan BBM dan jarak tempuhnya. Rencananya, pulang kerja nanti akan saya ukur. Tapi saya yakin pasti lebih hemat, karena waktu tempuh menjadi lebih cepat. Untuk itu terima kasih PT Jasa Marga. Mudah-mudahan tarif tol baru yang akan diberlakukan 1 September nanti, besarannya tidak begitu memberatkan pengguna tol. Jangan lupa, tarif naik kualitas jalan harus lebih baik dan mulus lho.IrwanMasa masuk melalui Bintara keluar ke Bekasi Timur yang biasanya Rp. 2.500 jadi tujuh ribuan, dibilang nggak naik oleh Jasa Marga. Mending lewat arteri deh kecuali kalau terpaksa.SetoHari ini saya double bete karena perubahan tarif tol JORR. Saya biasa menggunakan jalur Jatiasih-Taman Mini. Sebelum kenaikan, maka saya cukup membayar 5 ribu rupiah saja untuk sekali jalan. Kadang-kadang kalau pas mau irit, bisa juga 4 ribu rupiah karena keluar dulu di pintu keluar Kampung Rambutan. Lebih irit, dan kadang justru lebih cepat. Tapi hari ini begitu masuk pintu Jatiasih saya harus merogoh kocek 6 ribu rupiah. Saya tanya petugas: Ini sampai mana? Dijawab: sampai ujung, cukup bayar 6 ribu. Dengan agak sedikit ngedumel karena harus ada tambahan tarif 1-2 ribu rupiah, saya berusaha menyadari keputusan pemegang kendali negeri ini. Tetapi begitu mau keluar pintu Taman Mini, saya heran mengapa masih terjadi antrean? Logikanya, kalau masuknya sudah bayar kan keluarnya gak perlu bayar. Jadi harusnya lancar. Tetapi saya salah, di pintu keluar saya harus bayar seribu rupiah lagi. Saya tanya: kenapa harus bayar lagi? Dijawab: Bapak tadi kan dari JORR, sekarang masuk ke jalurnya Jagorawi. Jadi harus bayar lagi. Rupanya taif yang dulu itu adalah tarif gabungan JORR dengan Jagorawi. Dan sekarang harus bayar sendiri-sendiri. Busyet dah.... masuk bayar Rp 6 ribu, keluar harus bayar lagi seribu. Selain mahal, harus bermacet-macet lagi di pintu keluar. Kebijakan kok sama sekali nggak bijak begini ya. BambangKelihatannya pengguna jalan tol kembali diabaikan haknya untuk mengetahui informasi jalan tol yang baru (JRR), kami biasanya menggunakan jalur tol Bintara ke arah Cawang dengan tarif Rp 1.500. Mulai hari ini di mulut tol Bintara sudah bayar Rp 6.000, tanpa ada penjelasan tertulis di mulut tol tersebut kami meluncur ke arah Cawang, ternyata di gerbang tol Cikunir diminta mampir lagi untuk mengambil tiket ke arah Cawang, dan ini tidak semua pengguna tol mengetahuinya, banyak yang lewat tanpa tiket. Entah bagaimana konsekuensinya untuk pembayaran tol di gerbang Pondok Gede bagi mereka yang tanpa tiket tersebut. Seharusnya ada masa sosialisasi setidaknya seminggu dan dipasang papan pengumuman gede di mulut tol, baru diberlakukan ketentuan tarif dan metoda pembayarannya. Tidak hanya memikirkan keuantungan pihak investor saja, sekalipun pihak pengguna tol tidak punya hal tawar. Hendrawan Krisna AdiPagi ini saya berangkat kantor seperti biasa jam 6.00 pagi dari Tanjung Barat lewat jalan non tol menuju Kuningan, pas lewat fly over Tanjung Barat langsung macet karena yang mau masuk tol antre panjang sekali. Akibatnya penggunan jalan non tol juga terkena dampaknya ikut macet. Anak saya yang sekolah di daerah Pondok Pinang lewat tol biasanya berangkat jam 6.30 dan jam 7.15 sudah sampai sekolah tapi hari ini jam 07.20 masih di fly over Tanjung Barat. Menurut pendapat saya, pintu tol di JORR tidak dirancang untuk menerima pembayaran terlebih dahulu sehingga antrean mobil yang akan membayar terlalu panjang dan mengambil jalan non tol sehingga kemacetan bertambah parahElangHeran deh, kan dari kemarin sudah dibilang kalau tarif tol JORR itu flat, kenapa masih tanya-tanya juga (di radio, tv, dan koran ada, detikcom apalagi sudah duluan kasih infonya). Jatiwarna hari ini luar biasa macetnya, motor saja nggak bisa lewat karena orang-orang pada nggak sabar masuk ke tol JORR untuk "tanya-tanya" sampai Jalan Raya Hankam tertutup antrean, kalau mau sabar mestinya nggak usah tutupin Jalan Raya Hankam, kan masih bisa antre di belakang bahu jalan tsb. Gara-gara orang-orang yang pada nggak sabaran itu akhirnya putar balik cari jalan tikus dan telat sampai kantor. Bona NababanPagi tadi, kemacetan pintu tol Jatiwarna sampai kurang lebih 1 km. Tampaknya pengelola harus membuat pengecualian untuk angkutan umum yang masuk tol Jatiwarna - Bambu Apus Barat yang tadinya hanya Rp 1.000 naik menjadi Rp 6000 memberatkan para sopir angkutan umum. Beberapa juga sudah memberlakukan kenaikan tarif angkutan. Yang tadinya ke Kp Rambutan Rp 3.000 menjadi Rp 4.000. Bagaimana ini? Sosialisasi juga kurang. Spanduk pemberlakuan tarif baru tampaknya belum ada di semua pintu masuk tol. Bahkan ajaibnya, pemberlakuan tol kemarin, spanduknya baru terlihat pagi ini. Ajaib!Krisna H UtamaPagi ini saya dikejutkan dengan kenaikan tarif tol yang mencapai Rp 10.500. Sebelumnya biaya tol dari BSD keluar Bintaro hanya Rp. 3000 plus Rp. 2.000 (total Rp. 5000). Dua hari sebelumnya saya libur dan tiga hari sebelumnya saya pulang lewat Tol Tomang - Serang exit Serpong sehingga mungkin tiga hari ke belakang saya missed informasi kenaikan tarif JORR. Seharusnya untuk kenaikan signifikan seperti ini perlu sosialisasi yang baik. Sungguh kecewa dengan keputusan kenaikan ini karena kualitas jalan tolnya sendiri masih dibawah standard. Apakah pemerintah tidak dapat membuat keputusan yang memihak rakyat banyak? Apakah Jasa Marga tidak dapat memikirkan solusi selain menaikkan tarif?
(nrl/umi)











































