Ekraf Jadi Motor Baru Ekonomi, Pemerintah Siapkan Penguatan Digital RI

Apresiasi Konektivitas Digital

Ekraf Jadi Motor Baru Ekonomi, Pemerintah Siapkan Penguatan Digital RI

Rahmat Khairurizqi - detikNews
Selasa, 25 Nov 2025 09:57 WIB
Ekraf Jadi Motor Baru Ekonomi, Pemerintah Siapkan Penguatan Digital RI
Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Jakarta -

Industri ekonomi kreatif (ekraf) terus menunjukkan peran besarnya sebagai salah satu penggerak utama perekonomian Indonesia. Selain menyumbang kontribusi signifikan terhadap PDB, sektor ini juga membuka jutaan lapangan kerja baru bagi masyarakat, terutama generasi muda.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pekerja di sektor ekonomi kreatif telah mencapai 27,40 juta jiwa. Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti menyebut kontribusi sektor ini terhadap penyerapan tenaga kerja terus meningkat dari tahun ke tahun.

"Tahun 2025, tenaga kerja ekonomi kreatif memberikan sumbangsih sebesar 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional, dengan jumlah pekerja mencapai 27,40 juta jiwa. Angka ini naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 26,48 juta jiwa atau 18,30 persen," ujar Amalia, dikutip dari laman resmi BPS RI, Senin (24/10/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sisi ekonomi digital, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, Teuku Riefky Harsya, melaporkan bahwa sektor tersebut mencatat pertumbuhan signifikan dengan nilai investasi mencapai 66 persen pada semester pertama. Ia menilai sektor aplikasi kini menjadi tulang punggung ekonomi kreatif digital di Tanah Air.

Untuk mendorong percepatan pertumbuhan ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) fokus memperkuat tiga pilar yaitu infrastruktur digital, talenta digital, dan tata kelola. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria menekankan bahwa ketiga pilar tersebut menjadi fondasi penting bagi ekosistem ekonomi kreatif dan digital yang inklusif serta berdaya saing global.

"Pemerintah berkomitmen memperkuat infrastruktur, talenta digital kreatif, dan tata kelola teknologi yang beretika. Ketiga aspek ini menjadi kunci agar ekonomi digital dan kreatif Indonesia dapat tumbuh secara berkelanjutan dan inklusif," kata Nezar.

Ia menambahkan, sektor ekonomi kreatif saat ini telah berkontribusi lebih dari Rp 1.500 triliun terhadap PDB nasional dan menyerap lebih dari 24 juta tenaga kerja. Capaian ini tidak terlepas dari percepatan transformasi digital di berbagai sektor dan daerah.

Nezar juga menyoroti potensi besar kecerdasan artifisial (AI) dalam meningkatkan produktivitas dan kreativitas pelaku ekonomi kreatif. Namun, di sisi lain, adopsinya tidak lepas dari tantangan seperti biaya implementasi yang tinggi dan ketidakpastian regulasi terkait hak cipta.

"Adopsi AI masih terbatas karena biaya yang tinggi dan regulasi yang belum jelas. Teknologi ini juga membawa tantangan etika karena kemampuannya menciptakan konten yang sangat realistis bisa disalahgunakan. Karena itu, tata kelola yang baik sangat penting," jelasnya.

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional serta Peraturan Presiden tentang Etika AI untuk memastikan pemanfaatan teknologi berjalan aman dan berpihak pada kepentingan publik.

Di luar kebijakan pemerintah, pemerataan akses digital juga turut diperkuat melalui kolaborasi berbagai tokoh dan lembaga yang berperan menghadirkan konektivitas bagi masyarakat, termasuk di wilayah terpencil. Kolaborasi ini memastikan akses internet tidak hanya tersedia, tetapi juga benar-benar dimanfaatkan untuk pendidikan, usaha, hingga layanan publik.

Upaya pemerintah dalam mendorong transformasi digital di Indonesia tentunya tak dapat berjalan optimal tanpa peran aktif masyarakat . Untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam mendukung konektivitas digital, detikcom mengundang masyarakat untuk mengajukan individu, komunitas, dan lembaga inspiratif dalam acara 'Apresiasi Konektivitas Digital'.

Apresiasi Konektivitas Digital merupakan ajang penghargaan yang memberikan apresiasi kepada segenap insan, meliputi individu, komunitas, atau lembaga yang berperan penting dalam memperkuat konektivitas digital Indonesia.

Melalui penghargaan ini, detikcom akan menyoroti berbagai kisah inspiratif tentang dedikasi dan inovasi individu, komunitas, dan lembaga dalam membuka akses teknologi hingga pelosok negeri.

Cara Ajukan Nominasi Apresiasi Konektivitas Digital

Masyarakat bisa berpartisipasi dalam mendorong perluasan konektivitas digital dengan memberikan penghargaan kepada individu, komunitas, dan lembaga yang telah berkontribusi mengerahkan pikiran dan tenaganya untuk memperluas jangkauan telekomunikasi di Tanah Air.

Caranya, cukup ajukan nama individu, komunitas, atau lembaga melalui detik.com/apresiasikonektivitasdigital. Anda dapat mengusulkan nama individu, komunitas, atau lembaga yang dinilai berkontribusi nyata dalam membuka akses teknologi dan informasi, terutama di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Form dapat diisi dengan data diri dan kategori nominasi yang sesuai untuk mendukung proses seleksi penerima penghargaan Apresiasi Konektivitas Digital di laman ini. Adapun form dapat diisi mulai dari 15 November 2025 - 28 Februari 2026.

Melalui ajang ini, diharapkan bisa mendorong lebih banyak kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam menghadirkan akses digital yang merata di seluruh Indonesia. Dengan konektivitas yang semakin merata, masyarakat di daerah 3T pun memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan bersaing di era digital. Dengan demikian, visi Indonesia Emas yang dicanangkan pemerintah juga dapat terwujud.

detikcom sebagai media masif akan menyorot berbagai kisah inspiratif tentang dedikasi dan inovasi dalam membuka akses teknologi hingga pelosok negeri melalui penghargaan 'Apresiasi Konektivitas Digital' yang merupakan ajang penghargaan yang memberikan apresiasi kepada individu, komunitas, dan lembaga yang berperan penting dalam memperkuat konektivitas digital Indonesia.



(anl/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini