Kekerasan Subur, Rekor MURI untuk IPDN Terancam Dicabut

Kekerasan Subur, Rekor MURI untuk IPDN Terancam Dicabut

- detikNews
Senin, 27 Agu 2007 14:04 WIB
Bandung - Rekor MURI yang disandang IPDN mengenai penulisan pernyataan sikap moral yang ditulis di spanduk sepanjang 4.700 meter terancam dicabut atau bahkan gugur dengan sendirinya. Hal ini terjadi akibat terus munculnya aksi kekerasan pasca kematian Cliff Muntu, seperti kasus kematian tukang ojek Wendi Budiman. Hal itu disampaikan Ketua Umum MURI Jaya Suprana usai memberikan rekor MURI pemain angklung terbanyak di kampus Unpad, Jalan Dipatiukur, Bandung, Senin (27/8/2007). "Beberapa kasus kekerasan yang muncul pasca kematian Cliff Muntu ini kan masih dalam proses peradilan. Kami masih akan menunggu vonisnya. Jika ternyata terbukti, kami akan meminta pertanggungjawaban rektor IPDN serta mencabut rekor tersebut atau bahkan gugur dengan sendirinya," ujar Jaya Suprana. Jadi tidak perlu menunggu setahun? "Nggak perlu menunggu setahun. Lah wong dulu kan saat diberikan, saya bilang jika dalam setahun ini tidak ada masalah, maka rekor itu terus akan disandang mereka. Namun jika dalam setahun ini, banyak lagi muncul kekerasan, ya rekor itu gugur," tegasnya. Pada 26 Mei 2007, sebanyak 4.700 praja IPDN menorehkan uneg-uneg serta janji moral mereka di spanduk putih sepanjang 4.700 meter yang dipajang mengelilingi kampus. Atas aksi ini, MURI memberikan penghargaan berupa rekor penulisan pernyataan sikap moral di spanduk sepanjang 4.700 meter. Saat itu, Jaya menyatakan bahwa rekor ini hanya berlaku satu tahun, yaitu 25 Mei 2008. "Jika pernyataan moral ini dilanggar, maka akan dicabut," tegasnya saat itu. Belum juga satu tahun, pada 1 juli 2007 terjadi perkelahian antara praja IPDN Yulianus asal dari Jayapura yang dalam kondisi mabuk, dengan salah seorang anggota TNI. Kemudian tiga minggu kemudian, tanggal 22 Juli 2007, seorang tukang ojek, Wendi Budiman, dikeroyok oleh lima praja IPDN hingga tewas. Kasus ini kini ditangani oleh pihak penyidik. (ern/asy)


Berita Terkait