Sifat Royal dan Boros Jerumuskan Yogi pada Utang
Senin, 27 Agu 2007 08:55 WIB
Jakarta - Polisi bersikukuh motif kasus penculikan Raisah adalah ekonomi. Pernyataan ini dikuatkan oleh pengakuan anggota ekskul Kerohanian Islam (Rohis) SMA 35 baik yang masih aktif maupun sudah alumni.Salah seorang alumnus aktivis Rohis yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, usai penangkapan Yogi Permana, Anggana, dan 3 siswa SMA 35 lainnya, dirinya pun langsung melakukan konsolidasi dengan anggota Rohis SMA 35 lainnya.Hasilnya, terungkap bahwa utang yang melatarbelakangi penculikan Raisah karena Yogi tidak mempunyai manajemen toko yang baik."Manajemennya tidak pandai. Dia juga cukup royal dan boros. Sering bayarin kita kalau ada acara bareng," ujarnya kepada detikcom, Minggu (26/8/2007).Toko buku yang dimiliki Yogi bernama Serambi Bilqis terletak di daerah Matraman, Jakarta Pusat dan sudah berdiri sekitar 3-4 tahun yang lalu. Sifat Yogi yang royal sempat dikeluhkan salah seorang karyawan tokonya."Omsetnya sih normal, tapi Yogi royal, buat pengeluaran yang cukup besar," kata dia.Dikatakan dia, sempat juga salah satu alumni yang kebetulan main ke tokonya mengangkat telepon dari salah satu pelanggan yang menanyakan pesanannya yang tidak kunjung dikirim. Padahal uang sudah diterima oleh Yogi."Bagaimana ini, saya sudah ngirim Rp 4 juta tapi barang belum sampai," keluh seorang ibu yang mengaku berada di Hong Kong.Yogi memang dikenal pintar 'merayu' orang. Hal ini, menurut dia, mungkin dikarenakan sebelum berbisnis toko, Yogi pernah bekerja di bidang marketing suatu perusahaan asing.Modal awal berbisnis toko pun diperolehnya dengan 'merayu' investor. "Modal awalnya gandeng investor sekitar Rp 50-75 juta. Mungkin karena itu juga dia bisa merayu 3 siswa yang masih sekolah," kata dia.Ditegaskan dia, Rohis SMA 35 tidak terkait dengan NII seperti yang banyak diduga berbagai pihak. Tulisan salah satu tersangka, Firmando, yang menyinggung masalah jihad, menurutnya, hal semacam itu biasa saja."Isinya sama seperti lirik lagu yang sering dibawakan grup-grup nasyid. Temanya sama tapi liriknya mungkin berbeda," ujarnya.Yogi memang kerap mengisi materi pengajian di Rohis SMA 35 Jakarta. Tapi menurutnya, Yogi bukanlah orang yang dianggap suci dari kesalahan. Jika ada yang melenceng, anggota Rohis pun siap meluruskannya."Tidak ada yang terlalu kami hormati. Kita juga kerap menegur bila ada tindakan atau ucapan yang kami anggap melenceng atau tidak baik," tegasnya.Saat ini dirinya tidak tahu apakah toko buku yang juga menjual obat-obatan herbal itu sudah tutup atau masih buka. Dia tidak pernah berkunjung lagi ke toko tersebut.
(gah/sss)











































