Ponpes Assunnah Tegaskan Tak Terkait Penculikan Raisah
Minggu, 26 Agu 2007 12:46 WIB
Jakarta -
Sarita Anggraeni, istri kedua pelaku utama penculikan Raisah Ali, Yogi Permana, ditangkap di Pondok Pesantren (Ponpes) As-Sunnah, Tasikmalaya. Dia kini masih diperiksa di Mapolda Metro Jaya. Pimpinan Ponpes As-Sunnah menegaskan pihaknya tidak terkait kasus penculikan itu. Pimpinan Ponpes As-Sunnah H Maman membenarkan bahwa Sarita ditangkap aparat Polda Metro Jaya dan Polres Tasikmalaya di dalam pondok pesantrennya. "Memang benar, Sarita diambil polisi saat berada di rumah saya," kata Maman saat berbincang-bincang dengan detikcom, Minggu (26/8/2007). Rumah Maman memang berada di kompleks pesantren yang memiliki 400 lebih santri itu. Namun, Maman buru-buru menegaskan bahwa dirinya bukan menyembunyikan Sarita. Saat Sarita ditangkap di ponpes, Maman sedang berada di Cilacap. "Sarita diambil setelah lima menit sampai di rumah saya. Dia ke rumah saya, karena ingin menceritakan keluhannya, terutama mengenai suaminya yang ternyata menculik anak itu," ujar Maman. Maman memang pernah bertemu Yogi Permana, sekitar awal 2007 lalu di ponpes As-Sunnah. Saat itu, Yogi datang ke ponpes As-Sunnah setelah satu bulan menikahi Sarita. Setelah pertemuan itu, Maman tidak pernah bertemu lagi, karena Yogi membawa Sarita ke Jakarta. Kiai yang aktif di Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muhammadiyah Jawa Barat ini tidak tahu menahu soal penculikan terhadap Raisah. Bila, Sarita berada di ponpesnya, itu hanya karena Sarita ingin berkonsultasi dengan dirinya. Sarita memang sering ikut pengajian di ponpes yang dipimpinnya sebelum dinikahi Yogi Permana. Sarita datang ke Ponpesnya, setelah sebelumnya mengirim pesan pendek (SMS) kepada Maman. "Saat itu, saya sedang di Cilacap, karena ada tugas. Dalam SMS itu, Sarita mengaku bahwa suaminya ternyata adalah penculik Raisah yang diberitakan di media massa. Dia ingin berkonsultasi mengenai hal itu, termasuk apa yang akan dilakukannya," ujar Maman. Lantas, Maman meminta Sarita pergi ke rumahnya untuk menunggu dirinya. Maman mengaku sebenarnya dirinya juga ingin berkoordinasi dengan Polres Tasikmalaya terkait hal ini. "Tapi ternyata polisi menghubungi saya lebih dulu, karena lima menit setelah Sarita di rumah saya, para polisi sudah tiba di rumah saya," ujar Maman. Para polisi menelepon Maman meminta izin untuk membawa Sarita ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan. Saat itu, Maman meminta agar polisi menunggu dirinya. Maman ingin mengetahui seluk beluk peristiwa yang sebenarnya kepada Sarita. "Tapi, ternyata polisi meminta ingin membawa Sarita saat itu juga. Saya akhirnya mempersilakan, meski saya meminta kalau memang Sarita tidak terlibat, tolong dikembalikan," ujar Maman. Maman tidak memiliki hubungan keluarga dengan Sarita. Namun, Sarita sudah cukup lama menjadi tetangga pesantren dan seringkali mengikuti pengajian di ponpesnya."Sarita itu yatim piatu. Dia dulu mengontrak rumah di sebelah pesantren. Karena dia orang tidak punya, kadang-kadang juga kita bantu memberikan nafkah," aku Maman.
(asy/aba)










































