Penculikan Mengarah Teror, Tapi Bukan Teroris Pelakunya

Penculikan Mengarah Teror, Tapi Bukan Teroris Pelakunya

- detikNews
Sabtu, 25 Agu 2007 20:51 WIB
Jakarta - Kasus penculikan yang terjadi hampir tiga bulan belakangan ini sudah mengarah pada teror yang membuat kalangan orang tua ketakutan. Namun teror penculikan ini belum mengarah menjadi trend yang dilakukan para teroris, tapi sebatas karena motif ekonomi."Kasus ini memang sudah berdampak luar biasa dan mengarah kepada teror. Ya, tentunya membuat para orang tua siswa sekolah tidak tenang. Kalau sudah seperti ini harus segera diambil antisipasi dan perlunya sistem keamanan dari pihak keluarga," kata pengamatintelijen Wawan Poerwanto yang ditemui di Sate Pancoran, Pancoran, Jakarta Selatan, Sabtu(25/8/2007).Ketika ditanya apakah trend ini kemungkinan bisa digunakan teroris di dalam negeri untuk penggalangan dana guna melakukan aksi kekerasan di Indonesia. Wawan mengatakan, kemungkinan trend penculikan akan dilakukan kelompok teroris sangat jauh."Kalau ke arah sana tidak mungkin. Selama ini yang terjadi adalah Pai, yaitu perampokan, kalau nyulik kan repot karena harus menunggu uang tebusan," jawab Wawan.Dijelaskan Wawan, penculikan dengan meminta tebusan ini mudah untuk diintai aparat penegak hukum, sehingga kelompok teroris enggan menggunakan cara seperti itu."Kalau ngerampok toko emas kan mudah dijual dan langsung dijadikan uang, begitu juga kalau ngerampok bank kan langsung jadi duit. Kalau nyulik, paling teroris menculik para tokoh politik," ujarnya.Mengenai para pelaku penculik Raisya Ali yang dilakukan 3 anak SMU dan didalangi guru ngajinya di sekolah. Menurut Wawan, ini hanya kebetulan saja dan tidak terkait dengan sel atau jaringan terorisme di Indonesia."Kan kebetulan dia guru ngaji yang menyuruh murid nya di organisasi rohis. Tapi yang paling penting adalah motif di belakangnya," jelasnya.Dijelaskan Wawan, kasus penculikan yang marak tiga bulan belakangan ini lebih banyak bermotif ekonomi. Dia setuju pernyataan Wapres Jusuf Kalla bahwa maraknya aksi penculikan dipicu tontonan film-film kekerasan dari AS."Kalau motifnya ekonomi, rata-rata ujungnya pada tindakan pemerasaan atau karena kelilit utang dan ingin mendapatkan uang dengan mudah dan cepat," ucapnya.Pelaku penculikan memang bisa dilakukan sindikat yang terorganisir, perorangan, orang yang memiliki masalah kepribadian atau orang yang mencari perhatian. Bila motif ekonomi dan utang, apalagi punya utang Rp 75 juta sampai Rp 150 juta, dipastikan pelaku bukan orang miskin, dan tidak mungkin menculik anak jalanan atau anak dari keluarga berekonomi menengah ke bawah.Dalam kasus penculikan Raisya Ali memang dari keluarga yang berada, sehingga kenapa menculiknya. "Tapi kalau nanti ini merembet menjadi trend, ini yang perlu diantisipasi supaya tidak jadi kebiasaan buruk," tandas Wawan.Untuk itu, selain meningkatkan kewaspadaan dan sistem keamanan di dalam keluarga. Pihak sekolah pun harus menerapkan sistem keamanan dalam antar jemput anak didiknya, contohnya memberi ID atau pas kepada pengantar murid sekolah."Antisipasi lainnya adalah bagaimana melakukan sensor atas film-film bertema kekerasan dari luar negeri di media massa. Ini penting, untuk mengurangi pemicu untuk meniru tindakan kriminal seperti itu," imbuhnya. (zal/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads