Pelajar Menculik, Bukti Pendidikan Indonesia Salah Sasaran

Pelajar Menculik, Bukti Pendidikan Indonesia Salah Sasaran

- detikNews
Sabtu, 25 Agu 2007 10:24 WIB
Jakarta - Keterlibatan 3 pelajar SMA 35 Jakarta dalam penculikan Raisyah Ali (5) mencengangkan banyak pihak. Hal ini dinilai sebagai bukti pendidikan di Indonesia telah salah sasaran. Lebih mengutamakan otak daripada watak."Saya cukup terkejut dan prihatin atas kejadian ini. Tapi ini kan kasuistik dan tidak semua pelajar seperti ini," kata pengamat pendidikan Arief Rachman dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (25/8/2007).Dalam pandangan Arief, anak-anak atau para pelajar yang melakukan pelanggaran, tindakan hukum, terjadi karena sistem pendidikan selama ini salah sasaran."Pendidikan selama ini hanya diukur berdasarkan pemeringkatan nilai-nilai pelajaran eksak yang lebih mementingkan otak daripada watak," ujarnya.Padahal, lanjut mantan Kepala Sekolah Labschool Rawamangun, Jaktim itu, pendidikan jasmani atau olahraga, kegiatan ekstrakurikuler dan keagamaan sangat mendukung untuk pembentukan watak seorang pelajar."Tidak hanya pelajaran di kelas saja, tapi kegiatan pendukung lainnya yang membuat mereka jadi lebih utuh," imbuh Arief.Arief khawatir, fenomena yang ditunjukkan tiga pelajar SMA 35, Budi Hariyanto, Januarisman, dan Firmando Aziskyu merupakan puncak gunung es dari kebobrokan sistem pendidikan di Indonesia."Tapi saya berharap ini jangan digeneralisasi. Jadikan ini peringatan dan ancaman terhadap pendidikan kita agar segera dibenahi," ucap Arief.Mengenai peran Yogi Permana dan Anggana, dua alumni SMA 35 dalam mempengaruhi adik kelasnya, Arief mengatakan dalam dunia pergaulan pelajar, senioritas-junioritas merupakan sebuah hal yang dilalui para remaja dalam proses tumbuh kembang mereka."Senior bisa memberi pengaruh baik tapi juga pengaruh buruk. Memang kultur pendidikan kita seperti itu," tandasnya. (bal/fay)


Berita Terkait