Menuju Pemilu 2009, PMB Bertekad Jadi Parpol Alternatif

Menuju Pemilu 2009, PMB Bertekad Jadi Parpol Alternatif

- detikNews
Jumat, 24 Agu 2007 19:12 WIB
Jakarta - Apatisme masyarakat terhadap keberadaan partai politik (parpol) disadari Partai Matahari Bangsa (PMB). Karena itu, PMB bertekad untuk menjadi partai alternatif. Saat ini, PMB sudah membentuk 22 Pimpinan Wilayah (PW) di tingkat provinsi. Hal ini disampaikan Ketua Imara PP PMB Imam Addaruqutni dalam sambutan pembukaan Rakornas PMB yang digelar di Hotel Ibis, Slipi, Jakarta Barat, Jumat (24/8/2007). Acara dihadiri para delegasi 32 PW. Mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafi'i Ma'arif dan sesepuh Muhammadiyah Muhammad Muqoddas juga hadir dalam acara yang akan berlangsung hingga Minggu (26/8/2007) mendatang. Imam mengaku selama ini PP PMB telah melakukan silaturahmi ke seluruh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se-Indonesia. "Respons-nya cukup bagus, karena banyak Pimpinan Wilayah Muhammadiyah yang menjadi inisiator berdirinya PMB. Bahkan, mereka juga banyak yang menjadi pengurus Pimpinan Wilayah PMB," kata Imam.Menghadapi Pemilu 2009, PMB menargetkan terbentuknya Pimpinan Daerah dan Cabang hingga ranting sebelum akhir tahun 2007. "Ini untuk mengantisipasi verifikasi dari KPU dan pemerintah sebagai proses administratif keikutsertaan PMB dalam Pemilu 2009," ujar mantan politisi PAN ini. Dalam Rakornas, PMB akan membahas evaluasi gerakan PMB pasca launching Desember 2006, pemetaan kekuatan menghadapi ferivikasi, dan konsolidasi dan penguatan infrastruktur organisasi. "PMB akan menjadi partai alternatif di tengah apatisme masyarakat terhadap partai politik," ujar Imam.Seusai acara pembukaan, Imam menyatakan saat ini masyarakat merasa apatis terhadap partai politik dan mengalami krisis kepercayaaan terhadap pemimpin. "Di tengah krisis kepercayaaan terhadap pemimpin dan partai, PMB dibangun untuk menarik kembali proses reformasi pada rel sebenarnya. Rakyat punya peran besar dalam menentukan kebijakan publik baik ekonomi, politik dan sosial kebangsaan," kata dia.Menurut dia, PMB tidak diboleh dipahami sebagai partai politik dengan semangat sektarianisme, karena bukan sektarian. Tetapi lahir atas dasar historisitas Muhammadiyah dan sosiologis masyarakat Islam di bumi nusantara. Selama 100 tahun belum berperan signifikan dalam politik kebangsaan. "Karena itu PMB akan mengambil peran tersebut. Sekarang kader serta simpatisan Muhammadiyah yang tercerahkan sudah memiliki jumlah yang sangat besar dan signifikan dalam mengambil peran dan memperjuangkan aspirasi masyarakat," jelas mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah itu. Nasihat Syafi'i Sementara Buya Syafi'i Ma'arif dalam sambutannya menyatakan, ada kegagalan untuk memahami kepemimpinan umat Islam di Indonesia. "Saya senang PMB memiliki 32 wilayah. Namun dalam pemilu yang dihitung bukan isi kepala, tapi jumlah kepala," kata dia. Karena itu, Syafi'i meminta PMB untuk memperluas cakupannya. "Muhammadiyah hanya memiliki 20 juta. Tapi kalau PMB ingin memakmurkan bangsa, jangan hanya berkutat di Muhammadiyah, namun terbuka ke kelompok dan golongan lain. Kaum, tidak akan berubah, jika kaum itu tidak mengubahnya sendiri. Harus banyak inisitif mengembangkan PMB," pinta Syafi'i yang disebut-sebut menjadi penasihat 'Baitul Muslimin', lembaga keagamaan PDIP itu. (asy/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads