Kriminolog: Perbuatan 3 Pelajar SMAN 35 Tidak Ujuk-ujuk
Jumat, 24 Agu 2007 17:27 WIB
Jakarta -
Pelajar yang menculik Raisyah (5), diyakini tidak ujuk-ujuk melakukan tindakan kriminal. Perilaku tersebut sudah tertanam dan diduga dari lingkungan yang intim.Karenanya motif perbuatan itu harus diungkap sejelas-jelasnya.Hal itu disampaikan Yesmil Anwar, kriminolog dari Universitas Padjajaran, kepada detikcom, Jumat (24/8/2007)."Mungkin saya melawan arus, tapi saya melihat kasus ini murni kenakalan remaja. Dan, karena pelakunya di bawah 18 tahun dia kena UU Perlindungan Anak, tidak bisa disamakan dengan tindakan kriminal yang dilakukan orang dewasa," kata Yesmil.Di dunia yang hedonis seperti sekarang ini, kata Yesmil, orang selalu diukur dari materi. Orang diukur dari memiliki uang banyak atau tidak. Kalau tidak punya uang, tidak menghasilkan uang, seeorang tidak akan berarti apa-apa.Inilah yang dicontoh anak dan remaja. Mereka ingin punya uang tetapi dengan cara instan, walau itu merugikan orang lain. Untuk membeli HP atau makan di restoran, misalnya. Karena itu tidak aneh jika motif penculikan Raisyah karena uang.Sebab pola penculikan anak dengan orang dewasa jauh berbeda. Dalam penculikan anak, yang diincar biasanya uang tebusan, bukan dibunuh. Kecuali si pelaku memiliki kelainan. "Jadi kita harus melihat dari sisi masyarakat hedonis konsumtif yang pasti akan melahirkan bentuk-bentuk kenakalan seperti ini," katanya.Karenanya dia berharap kasus ini dilihat secara proporsional dan profesional. "Jangan berlebihan, karena orang akan takut melihat bentuk kejahatan ini. Jadi harus dilihat sebagai kenakalan remaja," katanya.Perilaku seperti ini biasanya tidak sekonyong-konyong, tetapi merupakan perilaku yang tertanam dari proses belajar."Dia biasanya dapat dari lingkungan yang intim. Durasi dan intensitas dan didesak kebutuhan pola masyarakat kita," kata dia.Soal pelaku yang terlibat kelompok pengajian dan aktivitas kerohanian Islam (rohis), Yesmil meminta stigma terhadap golongan-golongan tertentu ini dihilangkan."Sebagai kriminolog saya melihat ini tidak menguntungkan. Hanya akan membuat suasana menjadi tidak karu-karuan," ujarnya.Korelasi antara pelaku penculikan dengan kelompoknya, imbuh dia, tidak serta merta bisa menjadi pemicu. "Jadi harus dilihat dari sudut yang lebih obyektif. Saat ini sangat mudah orang memberi label," katanya.Yang harus diperhatikan saat ini, imbuh Yesmil, adalah Raisyah yang menjadi korban. "Jadi hati-hati, masyarakat kita yang sakit ini mudah sekali dibakar. Mudah bertindak, ada yang disebut amnesia berjamaah. Ini akan heboh sementara, setelah itu hilang," katanya.
(umi/asy)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































