Jerman Tawarkan Overhaul Kapal Selam TNI AL

Jerman Tawarkan Overhaul Kapal Selam TNI AL

- detikNews
Kamis, 23 Agu 2007 14:08 WIB
Jakarta - Pemerintah Jerman menawarkan kerjasama 'overhaul' atau perbaikan/pemeriksaan kapal selam KRI Nanggala milik TNI AL. Namun, belum ada kesepakatan soal perbaikan akan dilakukan di Indonesia atau Jerman."Pemerintah Jerman melalui Departemen Pertahanan-nya memberikan dukungan atas overhaul kapal selam KRI Nanggala milik TNI AL," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dephan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin dalam jumpa pers usai menerima kunjungan Sekjen Dephan Jerman Peter Eikenboon di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (23/82007).Rencana kerja sama perbaikan kapal selam TNI AL yang sudah berumur 26 tahun ini dibenarkan oleh Peter Eikenboon. Menurut dia, kerja sama ini masih dalam tahap negosiasi kedua negara, khususnya di antara industri strategis kedua negara."Pada prinsipnya di Jerman sangat menghargai adanya pembagian kerja dalam kerjasama overhaul itu. Jadi kita tidak memaksa pengerjaan perbaikan itu harus di Jerman," jelas Eikenboon ketika ditanya soal tempat pengerjaan perbaikan kapal tersebut.Yang jelas, lanjut Eikenboon, kapal selam Tipe 209 yang berbobot mati 1.395 ton buatan pabrik Howaldtswerke, Jerman, tahun 1981 itu bisa dilakukan sebagian di Jerman dan Indonesia. "Tapi ini masih sedang dinegosiasikan lagi," tandas dia. Sementara mengenai kunjungan Sekjen Dephan Jerman ini, menurut Sjafrie, selain melakukan kunjungan bilateral kedua departemen, juga akan mengunjungi badan usaha milik negara (BUMN) industri strategis, yaitu PT Dirgantara Indonesia (DI) dan PT Pindad di Bandung.Menurut Sjafrie, dalam pertemuan dibicarakan beberapa hal selain rencana overhaul kapal selam. Yaitu tukar pikiran soal observasi regional, terorisme, sparatisme dan pengamanan di Selat Malaka."Kita juga sama-sama pelajari proposal tentang partisipasi penempatan personel TNI AL di kapal perang Jerman dalam penugasan Unifil di Libanon. Juga membahas proposal persiapan kerjasama working group, yang meliputi kerjasama informasi, training, pertukaran prajurit, litbang dan teknologi," jelas Sjafrie. (zal/asy)


Berita Terkait