Masak Sih Polly Hanya Ingin Menyenangkan Indra?

Masak Sih Polly Hanya Ingin Menyenangkan Indra?

- detikNews
Kamis, 23 Agu 2007 11:05 WIB
Jakarta - "Kacau... Kacau," ujar mantan terdakwa pembunuh Munir, Pollycarpus Budihari Priyanto saat mendengar rekaman pembicaraannya dengan mantan Dirut PT Garuda Indonesia Indra Setiawan. Namun Polly menyatakan, pembicaraan itu hanya untuk menyenangkan Indra."Pembicaraannya itu kan serius. Masak sih pembicaraan itu hanya untuk menyenangkan Pak Indra?" cetus kuasa hukum Indra, Antawirya Dipodiputro dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (23/8/2007).Dikatakan dia, Indra bukanlah agen Badan Intelijen Negara (BIN). "Saya yakin bukan. Kalau agen, dia tidak akan ngomong-ngomong seperti ini," imbuhnya.Tapi kenapa dalam pembicaraan itu ada inisial-inisial? "Itu semacam sandi saja biar orang-orang nggak tahu. Kadang-kadang kan seperti itu. Tapi sehari-hari tidak," kata Antawirya.Namun Antawirya percaya, kliennya benar-benar menerima surat permintaan dari Wakil Kepala BIN As'ad untuk mengeluarkan surat penugasan kepada Polly sebagai staf perbantuan di unit corporate security. Akhirnya, keluarlah surat bernomor Garuda/DZ-2007/04 tertanggal 11 Agustus 2004."Pak Indra tidak langsung melaksanakan itu. Surat diterima bulan Juli 2004, tapi baru dilaksanakan pada Agustus. Lalu, sekitar 2-3 minggu ada kejadian itu (terbunuhnya Munir)," imbuhnya.Menurutnya, Indra lantas berpikir apakah ada hubungan antara surat perintah penugasan itu dengan peristiwa terbunuhnya Munir. "Pak Indra lantas mengontak Polly dan mempertemukan dengan As'ad. Saat pertemuan itu berlangsung, di ruangan itu ada orang lain yang ternyata Pak Muchdi PR (mantan Deputi V BIN)," beber Antawirya.Dituturkan dia, Indra lantas bertanya adakah keterkaitan pembunuhan dengan surat perintah tugas itu. "Menurut Pak Indra, As'ad bilang, 'tenang saja Pak Indra.' Dipikirnya Pak Indra, kata tenang itu artinya tidak ada hubungannya," ujar Antawirya.Pengakuan Indra kalau dia menerima surat permintaan dari BIN memang lemah. Sebab surat itu hilang pada 31 Desember 2004. "Paling tidak ini sebagai petunjuk dan kemudian diajukan sebagai novum dari jaksa. Tapi semua tergantung pengadilan, mau diterima atau tidak novum itu," tandasnya. (nvt/sss)


Berita Terkait