Kesaksian yang Menohok Polly

Sidang PK Munir

Kesaksian yang Menohok Polly

- detikNews
Rabu, 22 Agu 2007 23:21 WIB
Jakarta - Mantan Dirut Garuda Indra Setiawan menjadi bintang. Rekaman percakapannya dengan Pollycarpus Boedihari Priyanto melalui telepon benar-benar menjadi perhatian utama persidangan kali ini. Bila dicatat, bukti ini benar-benar menohok mantan pilot garuda itu. Semuanya memang dimulai dari Indra. Tak heran, JPU Poltak Manulang pun menaruhnya dalam urutan pertama dari lima saksi yang dihadirkan dalam persidangan peninjauan kembali (PK) Munir di PN Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada, Rabu (22/8/2007). Boleh dikatakan percakapan telepon itu menjadi benang merah yang menjadi petunjuk awal. Selama ini, memang kerap timbul pertanyaan, benarkah Munir dibunuh oleh sebuah konspirasi intelijen? Kini melalui rekaman telepon yang kemudian diakui Polly sebagai suaranya, seolah-olah membuka mata publik bahwa ada 'sesuatu' dalam peristiwa terbunuhnya aktivis HAM Munir. Faktanya, isi rekaman itu memang cukup mengejutkan. "Pokoknya bapak tenang saja. Saya kan yang dijadikan bemper, kalau bapak itu kan jauh. Ini hanya permainan politis," demikian penggalan rekaman suara Polly. Walaupun kemudian Polly menjawab bahwa semua yang dikatakannya hanya langkah dia untuk menenangkan Indra, tapi tentunya publik pun bertanya, berani-beraninya Polly melakukan itu. Dan apakah Polly tidak sadar bahwa kasusnya ini, bahkan memperoleh perhatian dari Dewan HAM PBB. Bagaimana pun, suka tidak suka 'candaan' Polly ini telah menjadi disodorkan sebagai bukti di persidangan. Bila mempersoalkan penyadapan ini pun rasanya sulit bagi Polly untuk melakukannya. Mengingat kepolisian adalah lembaga yang memiliki kewenangan untuk melakukan itu. Hal lain yang perlu dicermati, pemutaran rekaman ini bisa jadi merupakan upaya penyidik dan jaksa untuk menutup lubang atas surat 'sakti' Wakil Kepala BIN As'ad untuk penugasan Polly sebagai aviation security yang raib. Artinya rekaman ini memang benar-benar kartu truf. Bila dalam permainan bulutangkis, Polly seolah-olah mendapat smash. Mungkin hanya kata saja yang dapat menggambarkan sikap Polly saat menerima serangan mantan bosnya di Garuda. "Kacau...kacau," cetus Polly, mantan narapidana kasus pembunuhan Munir, sambil menggeleng-geleng kepala saat mendengarkan rekaman itu. Sedikit banyak rekaman percakapan itu kini sedikit membuka tabir yang terselubung. Dari kesaksian Indra, kini beralih kepada kesaksian yang lainnya. Karena bagaimana pun berbagai kesaksian ini adalah sebuah rangkaian yang bertautan. Pastinya kesaksian ini membuat pembelaan Polly semakin berat. Muntahan 'peluru' yang menyerang Polly ini datang dari Asrini Utami Putri yang mengaku melihat Polly bersama dengan Munir dan si gondrong di coffee bean bandara Changi, Singapura. Asrini, mahasiswa Indonesia yang kala itu sedang studi di Jerman bahkan mengingat detil baju yang dikenakan Polly. Demikian pula dengan kesaksian Muhammad Patma Anwar alias Ucok yang mengaku agen BIN. Dia menyatakan melihat Polly di pelataran parkir BIN. Meski beberapa hal dari keterangan Ucok, mesti dijelaskan. Seperti pernyataan mengenai surat tugas dari BIN yang telah diserahkannya kepada penyidik. Tentunya sudah sewajarnya polisi harus menunjukkan kepada publik, fisik surat tersebut. Singkat cerita, kesaksian Indra, Asrini, dan Ucok adalah serpihan-serpihan yang coba dirangkaikan penyidik. Bila diperhatikan seksama, keterangan masing-masing saksi memunculkan dugaan kuat adanya konspirasi dalam pembunuhan Munir. Memang masih panjang untuk sampai kepada kesimpulan final, mengingat persidangan tengah berjalan. Pastinya berbagai pertanyaan pun diharapkan nantinya akan terjawab. Yang mendasar, apa motif pembunuhan Munir? Tapi, walau bagaimanapun serpihan yang sudah muncul itu kini telah menjadi catatan di saku majelis hakim. Kita tunggu sidang selanjutnya. (ndr/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads