Assalam Bantah Pemukulan Sebagai Program Pesantren

Assalam Bantah Pemukulan Sebagai Program Pesantren

- detikNews
Rabu, 22 Agu 2007 12:00 WIB
Solo - Pesantren Modern Assalam, Pabelan, Sukoharjo, menegaskan kekerasan fisik yang terjadi di kompleks pesantren tersebut bukanlah program yang diterapkan oleh pengelola pesantren. Pihak pengelola Assalam menyebut kejadian itu hanyalah sebuah perkelahian antar-santri.Humas Pesantren Modern Assalam, Muslim Ridho, mengatakan kasus kekerasan yang menimpa beberapa santri tersebut hanyalah dampak pergesekan yang terjadi antar-santri di sebuah pesantren yang memiliki ribuan santri dari berbagai daerah."Mungkin saja itu perselisihan antar-santri yang memiliki latar belakang berbeda-beda karena datang dari berbagai daerah. Laporan yang kami terima pelaku pemukulan adalah santri kami, Dodi dan Adib Bayu. Selama ini keduanya memang santri dalam pengawasan khusus," ujar Ridho, Rabu (22/8/2007).Ridho mengatakan pihak Assalam akan mengupayakan kasus tersebut akan selesai dengan jalan damai dengan mempertemukan semua pihak yang terkait. Namun jika pihak korban dan walisantri korban tetap ingin menyelesaikan lewat jalur hukum, Ridho mengaku tidak bisa berbuat apa-apa.Sedangkan Supriyatin, walisantri yang juga ayah Dery Saputra yang menjadi korban pemukulan seniornya, berkeras akan menutut kasus tersebut lewat hukum hingga tuntas agar kejadian seperti itu tidak terulang. Dia juga mempertanyakan pengawasan pengelola pesantren terhadap para santrinya sehingga terjadi kekerasan di dalam pesantren."Dery mengaku bukan sekali itu saja dipukuli senior. Sebelum masuk Assalam dia juga nyantri di Pesantren Al Ma'shum, Bandung, toh dis ana tidak ada kekerasan seperti di Assalam. Kami mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban pengelola pesantren dalam mengawasi para santri," tandas Supriyatin.Supriyatin mengaku mendapat informasi keberadaan Assalam dari seorang kenalan. Menurut kenalan Supriyatin tersebut, Pesantren Modern Assalam adalah pesantren bertaraf internasional yang mendidik santri secara modern."Saya baca brosurnya memang program-program yang ditawarkan sangat mentereng. Namun sekarang, saya kecewa. Ternyata kata pesantren itu hanya merk dagang, sedangkan kata modern itu diartikan pukul-memukul santri. Saya akan tarik anak saya dan anaknya juga tidak mau lagi nyantri disana," lanjutnya. (mbr/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads