Konversi Minah ke Gas Idealnya Butuh Waktu 2-3 Tahun
Rabu, 22 Agu 2007 07:04 WIB
Jakarta -
Antrean minyak tanah kembali terjadi di beberapa tempat di Ibukota. Program konversi minyak tanah ke gas dituding sebagai biang kerok. Warga dipaksa pindah ke gas dengan cara mengurangi jatah minyak tanah di lapangan.Mepetnya waktu sosialisasi dan kacaunya koordinasi dianggap sebagai penyebab masyarakat sulit menerima gas sebagai pengganti minyak tanah."Ini kan mengubah tradisi. Diperlukan masa transisi. Tidak cukup hanya 1-4 bulan, tapi idealnya 2-3 tahun," ujar pengamat perminyakan Kurtubi saat dihubungi detikcom, Selasa (21/8/2007).Suplai minyak tanah, lanjut Kurtubi, juga jangan dikurangi secara drastis tapi secara bertahap. Dengan proses yang berlahan masyarakat nantinya akan dapat memilih mana yang paling bagus antara minyak tanah dan gas."Kita lihat. Biarkan saja masyarakat pindah sendiri," katanya.Dalam proses konversi yang sudah berlangsung saat ini, Kurtubi melihat yang terjadi justru masyarakat dipaksa untuk menggunakan minyak tanah. Padahal banyak di antara mereka golongan kelas bawah yang belum mendapat jatah kompor dan tabung gas gratis. Buntutnya, masyarakat kebingungan dan panik akibat pasokan minyak tanah dikurangi Pertamina.Walaupun bermasalah, kurtubi menolak mengatakan kalau program konversi gagal. Hanya saja ia menyarankan ada baiknya pemerintah mengembalikan pasokan minyak tanah ke kondisi normal sebelum menguranginya secara perlahan."Suplai normal dulu. Kurangi perlahan, misalnya kurangi 1 persen dahulu," sarannya.Ide konversi menurut pandangan Kurtubi sangat bagus. Dengan menggunakan gas maka masyarakat bisa meningkatkan kualitas hidupnya karena lebih praktis dan lebih efisien.
(gah/ziz)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































