(Lama) Menunggu Mendagri Baru

(Lama) Menunggu Mendagri Baru

- detikNews
Senin, 20 Agu 2007 08:19 WIB
Jakarta - Bulan Agustus tersisa sepuluh hari lagi. Namun, hingga sepertiga terakhir bulan Agustus ini, Presiden SBY belum juga mengumumkan pengganti M Ma'ruf sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Padahal, sebelumnya, pemerintah sudah menyampaikan bahwa Mendagri baru akan diumumkan bulan ini. Para politisi dari berbagai partai politik telah mendorong Presiden SBY agar segera mengumumkan pengganti Ma'ruf. Mereka beralasan, posisi Mendagri sangat penting, terutama terkait akan dibahasnya RUU Paket Politik di DPR. Pembahasan RUU Paket Politik yang diperkirakan menghabiskan energi dan memerlukan lobi-lobi politik akan terganggu bila kursi Mendagri dibiarkan kosong. Hingga Senin (20/8/2007), belum ada tanda-tanda Presiden SBY akan mengumumkan Mendagri baru. Selama ini, sejumlah nama sudah muncul di media massa sebagai kandidat. Nama yang sering muncul adalah Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto, Sekjen Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Siti Nurbaya, dan Gubernur DKI Sutiyoso. Beberapa hari terakhir nama Letjen TNI M Yasin lebih sering mengemuka di media. Gara-garanya, adanya konsolidasi alumni Akabri 1973 - teman-teman seangkatan Yasin dan SBY - yang terus mendorong agar Presiden SBY menunjuk Yasin. Konsolidasi pendukung Yasin ini sudah beberapa kali digelar di Hotel Red Top Jakarta. Di antara sejumlah nama kandidat yang muncul, pendukung M Yasin paling mencolok untuk berkoar-koar. Sementara kubu Mardiyanto, Siti Nurbaya atau Sutiyoso tampak relatif tenang. Apakah reaksi kubu M Yasin yang lebih terus terang ini sebagai respons atas indikasi bahwa SBY akan memilih salah satu dari Mardiyanto, Siti Nurbaya, atau Sutiyoso? Belum jelas benar. Yang jelas, para kandidat ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kriteria seperti apa yang akan dipilih SBY, juga belum jelas. Namun, sejumlah pengamat politik memperkirakan SBY akan memilih orang yang loyal dan bisa diajak kompromi terkait kepentingan Pemilu 2009. Dalam kata lain, figur yang akan dipilih merupakan orang yang menguntungkan SBY. Berbagai isu muncul terkait lambannya Presiden SBY mengumumkan Mendagri baru. Diduga, Presiden SBY masih menimbang-nimbang secara hati-hati atas pilihan-pilihan ini. Untuk diketahui, keempat kandidat kuat yang muncul ke media ini terdiri dari satu orang sipil, dua orang purnawirawan TNI, dan satu orang perwira TNI yang aktif. Sempat muncul spekulasi bahwa Presiden SBY akan memilih Mendagri dari kalangan sipil, yang benar-benar mengerti persoalan dalam negeri, termasuk soal Pemilu. Karena itu, sempat muncul isu bahwa Siti Nurbaya akan dipilih. Namun, akhir-akhir ini angin sepertinya menuju ke arah kandidat dari TNI. Hanya saja Presiden SBY masih menimbangkan salah satu di antara tiga orang itu. Mardiyanto dan Sutiyoso merupakan senior SBY. Keduanya yang kini menjadi gubernur wilayah penting ini sudah berpengalaman memimpin daerah. Namun, kedua tokoh ini dikhawatirkan akan menjadi pesaing SBY dalam Pemilihan Presiden 2009. Di antara dua orang ini, Mardiyanto dinilai lebih apolitik, sehingga ancamannya lebih kecil. Tapi, SBY juga diminta mempertimbangkan oleh para alumni Akabri satu angkatan. SBY diwanti-wanti memilih Yasin, yang selama ini telah loyal kepada SBY. Kapabilitas Yasin yang selama ini berada di gerbong Polhukam juga dinilai sebagai nilai plus jenderal bintang tiga itu. Isu terakhir, SBY diminta mempertimbangkan agar Mendagri tidak condong kepada Golkar, yang bisa jadi rivalnya dalam Pemilu 2009 nanti. Golkar diperkirakan akan memanfaatkan posisi Mendagri ini terkait pembahasan RUU Paket Politik. Golkar yang dipimpin Jusuf Kalla ini menginginkan agar RUU Paket Politik yang akan disahkan nanti benar-benar menguntungkan mereka. Namun, meski isu ini banyak beredar dan sering jadi bahan pembicaraan para politisi, namun Presiden SBY belum pernah menyinggung dan merespons kepada media. Yang jelas, informasi dari istana sebelumnya, SBY akan mengumumkan Mendagri bulan Agustus, untuk merealisasikan janjinya bahwa Ma'ruf akan diganti setelah melakukan evaluasi tiga bulan sejak bulan Mei lalu. (asy/asy)


Berita Terkait