Warga Kolong Tol Belum Tahu akan Digusur 20 Agustus

Warga Kolong Tol Belum Tahu akan Digusur 20 Agustus

- detikNews
Kamis, 16 Agu 2007 14:40 WIB
Jakarta - Warga kolong Tol Wiyoto Wiyono mengaku belum mengetahui rencana pembongkaran rumah liar di kolong tol itu pada 20 Agustus 2007. Beberapa warga yang ditemui di Warakas dan Pademangan Timur, terlihat masih tenang saja. Aktivitas keseharian pun masih berjalan lancar, seperti mengumpulkan barang bekas atau berkumpul di warung makan. Kegiatan ekonomi bongkar muat pasir bangunan masih dilakukan. Untuk diketahui, salah satu ruas kolong tol di Sungai Bambu digunakan sebagai penimbunan barang material, yakni pasir. Di kolong tol kelurahan Warakas, puluhan anak-anak terdengar hiruk-pikuk dalam permainan sepak-bola. Sementara anak perempuan main petak umpet dan sebagian yang lain tengah main "pasar-pasaran". "Ngggak tau tuh. Belum denger," kata Hasan (52), warga Gang 21 kolong tol Warakas, Tanjung Priok Jakarta Utara, Kamis (16/8/2007).Ketidaktahuan itu diiyakan oleh lima lelaki yang tengah berkumpul di tempat itu. "Saya malah baru denger dari mas wartawan," imbuhnya.Pun demikian, Hasan yang sudah tujuh tahun menghuni kolong tol mengaku tidak keberatan bila harus dipindah dari kolong tol. Hanya saja, ia menggarisbawahi bila harus dipindah, mereka mau di tempat yang tidak jauh dari kolong tol. Alasannya, mata pencahariannya di dekat dengan kolong tol."Kalau harus dipindah jangan jauh-jauh. Ntar kita susah kalau nyari duit," ucap Hasan yang sehari-hari menjadi tukang parkir di pasar Warakas.Pendapat senada dilontarkan oleh sepasang suami istri Namiah (35) dan Nanang Ghosim (37). Warga yang tinggal di gang 2 Kolong tol Sungai Bambu, Tanjung Priok, meminta bila jadi digusur, lokasi pengganti tidak jauh dari tempatnya berumah sekarang. "Saya belum tahu. Kalaupun harus pindah, dekat-dekat sini saja," ucap Nanang. Ketidaktahuan warga merata di sepanjang bawah tol Wiyoyo Wiyono yang membentang dari Pelabuhan Tanjung Priok hingga Grogol. Beberapa warga yang ditemui di bawah kolong tol kelurahan Pademangan Timur maupun Jl Lodan, Ancol, mengungkapkan ketidaktahuannya."Bingung harus pindah. Dulu, empat tahun lalu saya beli tanah di sini empat juta rupiah. Saya bayar ke preman sini. Masak harus pindah. Yang benar saja," kata Maya (24), warga kolong tol Pademangan Timur.Sejauh pegamatan detikcom, warga sepanjang jalan tol itu belum bersiap mengosongkan rumahnya. Di beberapa tempat, kolong tol telah berubah fungsi. Seperti tempat penimbunan barang bekas (plastik, besi, kardus, triplek), benda material bangunan, hingga rumah petak, salon kecantikan, WC umum, dan wartel. (Ari/asy)


Berita Terkait