Mengenal 'Kopassus' Iran yang Dicap AS Grup Teroris

Mengenal 'Kopassus' Iran yang Dicap AS Grup Teroris

- detikNews
Kamis, 16 Agu 2007 09:22 WIB
Teheran - Amerika Serikat (AS) bulan ini memasukkan pasukan elit Iran, Garda Revolusi, sebagai grup teroris. Apa dan bagaimana sebenarnya 'Kopassus' Iran ini?Garda Revolusi didirikan sesaat setelah Revolusi Islam yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini menggulingkan rejim Shah Pahlevi pada tahun 1979. Nama resmi pasukan elit yang saat ini berkekuatan 250 ribu personel ini adalah Korps Garda Revolusi Islam.Tujuan pembentukannya untuk mengkonsolidasikan pasukan-pasukan paramiliter yang berjuang meruntuhkan rejim Shah. Setelah terbentuk, Garda Revolusi diarahkan untuk melawan ancaman dari gerilyawan kiri atau militer yang masih setia pada Shah Pahlevi yang disokong AS.Seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (16/8/2007), Garda Revolusi tumbuh menjadi cabang terpenting dari kekuatan militer Iran. Mereka memainkan peranan penting pada saat perang melawan Irak antara 1980-1988 lalu.Kekuatan 'Kopassus' ala Iran ini begitu kuat, sehingga beberapa alumninya kini memegang posisi penting di pemerintahan Iran. Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dan Walikota Teheran Mohammad Baqer Qalibaf adalah alumni dari Garda Revolusi ini.Menariknya, Garda Revolusi tidak tunduk pada kepemimpinan presiden. Sejak awal terbentuk sampai sekarang, Garda Revolusi dipimpin langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran yang saat ini dipegang Ayatollah Ali Khamenei.Hal yang luar biasa lagi, Garda Revolusi memiliki cabang-cabang angkatan (darat, laut dan udara) tersendiri, yang beroperasi paralel dengan angkatan bersenjata Iran. Mereka juga memiliki infrastruktur keuangan dan teknologi yang kuat, sehingga memiliki kemampuan mengembangkan rudal jarak jauh yang bisa menjangkau seluruh Timur Tengah."Kami memiliki sistem rudal dari darat ke laut yang bisa menjangkau Teluk Persia dan Laut Oman," ungkap Panglima Garda Revolusi Iran, Yahya Rahim Safavi.Safavi mengatakan, angkatan laut Garda Revolusi memiliki 1.000 kapal kecepatan tinggi, sementara angkatan daratnya memiliki persenjataan yang mampu menembus tank-tank AS dan Israel. Terdapat juga 12 juta milisi Basij yang siap mati."Kami yakin pada kemampuan pertahanan kami namun tentunya kami memikirkan nasib perdamaian dan ketenangan di wilayah Timur Tengah," kata Safavi.Faktor yang menakutkan AS tentunya bukan masalah persenjataan itu karena tak mungkin angkatan bersenjata AS kalah canggih. AS ingin memasukkan Garda Revolusi dalam daftar grup teroris supaya bisa memblokir aset dan keuangan pasukan elit.AS menuduh banyak gerakan bersenjata di negara-negara lain di Timur Tengah disokong oleh pasukan elit Iran itu. Apakah ini hanya sekadar alasan untuk mencari jalan menyerbu Iran seperti yang dilakukan AS terhadap Irak? Wallahu alam. (aba/umi)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads