Nasib TKI, Pahlawan Devisa yang Kerap Terpuruk

Nasib TKI, Pahlawan Devisa yang Kerap Terpuruk

- detikNews
Rabu, 15 Agu 2007 16:36 WIB
Jakarta - Banyak TKI yang sukses bekerja di negeri orang. Ketika pulang, mereka membawa pundi-pundi uang. Rumah bagus dan barang-barang elektronik menjadi bukti kesuksesan mereka.Namun, tak jarang pula TKI pulang dengan wajah lebam, bekas-bekas penganiayaan di sekujur tubuh pun jelas terlihat saat baju diangkat. Lebih tragis lagi, ada yang pulang dengan tubuh terbujur kaku. Tewas karena disiksa.Tak disangkal, TKI adalah penghasil devisa bagi negara. Dengan meningkatnya jumlah TKI, otomatis transfer pendapatan ke daerah asal (baik berupa uang maupun barang) atau remitan dan juga devisa akan meningkat."Tahun kemarin saja ada sekitar US$ 10 miliar," ujar Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) Jumhur Hidayat dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (15/8/2007).Sebagai pahlawan devisa, seharusnya TKI mendapat perlindungan yang lebih baik. Dengan demikian, kasus-kasus penganiayaan yang kadang berujung maut tak lagi terdengar.LSM yang menaruh perhatian terhadap buruh migran, yakni Migrant Care mencatat, dari sekian banyak TKI, ternyata sekitar 80 persen adalah perempuan. Ironisnya, dalam beberapa kasus, tenaga kerja perempuan disuruh bekerja selama 22 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tak jarang mereka bekerja tanpa gaji yang memadai dan perut keroncongan.Kasus kekerasan pada TKI yang pernah menghiasi halaman surat kabar Tanah Air adalah yang dialami Nirmala Bonat (NTT), Rumiyati (Banyumas, Jawa Tengah), Siti Fatimah (Blitar, Jawa Timur), Sri Hermawati (Sukabumi, Jawa Barat), Tarsih binti Otong (Karawang, Jawa Barat), Ceriyati (Brebes, Jawa Tengah), dan Parsiti (Wonosobo, Jawa Tengah).Ada juga TKW yang bekerja di luar negeri malah diperkosa atau diancam diperkosa oleh majikannya, seperti Nuraini (Brebes, Jawa Tengah) dan Acih binti Caking (Karawang, Jawa Barat).Beberapa TKI bahkan pulang dalam keadaan tak bernyawa akibat penyiksaan. Hal itu antara lain dialami Siti Tarwiyah binti Slamet (Ngawi, Jawa Timur) dan Susmiyati binti Abdul Fulan (Pati, Jawa Tengah).Ketua Satgas Perlindungan WNI Kedutaan Besar RI Kuala Lumpur Tatang Razak pada Juni lalu mengatakan, per tahun pihaknya menangani sekitar 1.000 kasus TKI di Malaysia. Mereka kebanyakan mengalami penyiksaan dan tidak dibayar gajinya.Rupanya, begitulah potret buram TKI di negeri orang. Dan sudah seharusnya yang buram-buram itu mendapat perhatian yang serius dari si pembuat kebijakan. (nvt/sss)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads