Warga Aceh di Yogya Peringati 2 Tahun MoU Helsinky
Rabu, 15 Agu 2007 15:19 WIB
Yogyakarta - Seratusan warga Aceh di Yogyakarta memperingati 2 tahun MoU Helsinky.Mereka meminta semua pihak menjaga perdamaian di Aceh dan tidak terpancing provokasi politik.Peringatan MoU Helsinky itu digelar lewat aksi damai yang dimulai dari Bunderan Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), di Bulaksumur Yogyakarta, Rabu (15/8/2007). Kegiatan ini diikuti massa yang tergabung dalam Solidaritas Damai Aceh (Soda).Dari Bunderan UGM, massa Soda melanjutkan aksinya dengan longmarch menuju Tugu Yogyakarta. Aksi damai berakhir di Simpang Empat Kantor Pos Besar di Jl Senopati.Dalam unjuk rasa itu, 4 orang peserta yang terdiri dari 2 pria dan 2 perempuan mengenakan pakaian adat Aceh warna biru tua dan merah. Mereka mengusung spanduk yang antara lain bertuliskan 'Perdamaian Harga Mati dan Tidak Bisa Ditawar Lagi'. Aksi longmarch itu, massa dikawal ketat oleh sekitar 50-an aparat Poltabes Yogyakarta. Sepanjang jalan yang dilalui, peserta aksi membagikan bunga mawar kertas warna merah dan putih. Aksi di Kantor Pos diakhiri dengan dilepaskannya sepasang merpati putih yang melambangkan perdamaian. Koordinator aksi, Zul Azmi mengatakan, dua tahun penandatanganan perjanjian Helsinky hendaknya menjadi momen penting untuk menciptakanperdamaian di Aceh. Sebab rakyat Aceh sudah lelah dengan berbagai aksi kekerasan yang terjadi selama ini. Zul juga meminta masyarakat internasional memantau perdamaian di Aceh bersama Aceh Monitoring Mission (AMM) sehingga perdamaian di Aceh dapat segera terwujud. Selain itu, kinerja BRR Aceh yang masih tertundajuga harus dituntaskan."Kami ingin implementasi MoU Helsinky berjalan optimal dan segera tuntaskan tugas AMM," kata Zul Azmi.Menurut Zul, dua tahun perjanjian masih diwarnai berbagai provokasi politik. Akibatnya rakyat Aceh kembali resah. Oleh karena itu, Soda menolak berbagai aksi provokasi di Aceh yang terjadi akhir-akhir ini,yang akan memicu munculnya konflik. "Kami tak ingin rakyat Aceh terprovokasi aksi-aksi politik. Sebaiknya dihentikan saja, sudah tak ada gunanya lagi," kata dia.
(bgs/djo)











































