Lindungi TKI dengan Home Visit
Rabu, 15 Agu 2007 10:21 WIB
Jakarta - Beberapa TKW asal Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia mendapat kekerasan dari majikannya. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) pun menjajaki adanya home visit untuk melindungi para TKI."Kita mau mendorong adanya home visit untuk mengurangi dan mencegah adanya kekerasan kepada pekerja rumah tangga kita yang ada di negara lain, seperti di Malaysia," ujar Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat saat dihubungi detikcom, Rabu (15/8/2007).Dikatakan dia, home visit merupakan kegiatan terlembaga yang di dalamnya ada tenaga pengacara, asuransi, jasa pelayanan bandara, dan sebagainya. "Jadi ada jaminan keamanan bagi TKI yang baru datang ke negara itu, sampai dia tinggal dan bekerja," kata Jumhur.Menurut dia, mekanisme kerja home visit adalah dengan menelepon atau mendatangi para TKW. Dengan adanya komunikasi tersebut, maka diharapkan segala keluh kesah TKW bisa ditampung. Bila ada masalah, bisa dicari jalan keluarnya."Nanti yang bayar lembaga yang melakukan home visit itu majikannya. Dan kontrol atas lembaga itu ada di KBRI. Jadi nantinya, dalam tempo tertentu ada laporan keadaan TKW kita," beber Jumhur.Kegiatan ini, tambahnya, diharapkan bisa dilakukan mulai tahun 2007 ini. Kegiatan tersebut tak hanya akan diterapkan di Malaysia, namun kini juga tengah dalam proses untuk diberlakukan di Arab Saudi.Laporan kekerasan pada TKI kerap terdengar. Misalnya saja kasus yang menimpa Nirmala Bonat, Ceriyati, dan yang terbaru adalah Parsiti.Parsiti adalah perempuan 21 tahun yang kabur dari lantai 22 apartemen majikannya lantaran tidak tahan dengan siksaan yang kerap menderanya. Perempuan asal Wonosobo, Jawa Tengah, ini dikirim oleh PT Luki Mitra Abadi. Sedangkan agennya di Malaysia adalah Sumber Pertiwi Sdn Bhd.
(nvt/sss)











































