Potongan Rambut dan Kuku Sultan Dilarung di Parangkusumo
Selasa, 14 Agu 2007 15:55 WIB
Yogyakarta - Potongan rambut, kuku dan seperangkat pakaian raja kraton Yogyakarta dilarung di Pantai Parangkusumo, Bantul. Prosesi itu untuk memperingati bertahtanya Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai raja di Kraton Yogyakarta.Prosesi labuhan alit, Selasa (14/8/2007), bertepatan dengan 30 Rajab dalam kalender Jawa. Acara dimulai pukul 09.00 WIB daripendopo Kecamatan Kretek Jl Parangtritis Km 20 atau sekitar 4 km dari Parangkusumo kawasan Parangtritis. Selanjutnya berbagai perangkat labuhan dibawa abdi dalem kraton menuju Cepuri Parangkusumo. Selanjutnya perangkat tersebut diserahkan kepada juru kunci Raden Penewu Suraksotarwono.Sebelum serah terima, satu persatu perangkat dibuka dan dicek. Perangkat labuhan itu meliputi pakaian wanita lengkap berupa kain panjang batik motif cangkring, semekan gadhung mlati, yang ditujukan kepada penguasa laut selatan Kanjeng Ratu Kidul. Selaian itu terdapat pula pakaian milik Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta kain mori, potongan rambut, potongan kuku dan sejumlah sesaji seperti bunga setaman, daun sirih, kemenyan minyak wangi dan uang kepeng seratusan. Semuanya suda terbungkus dantertata rapi.Berbagai perangkat labuhan itu diusung tiga tandu yang terbuar dari bamb. Perangkat tersebut dibawa menuju Cepuri Parangkusumo yang dipercaya sebagai pintu masuk kraton Laut Selatan. Di depan batu hitam di cepuri, juru kunci RP Suraksotarwono berdoa memohon izin dimulainya labuhan. Dia bersama para abdi dalem menaburkan bunga, minyak wangi dan membakar kemenyan di atas dua buah batu tersebut.Selanjutnya di salah satu sudut Cepuri, seperangkat pakaian bekas milik Sultan beserta potongan rambut dan kuku ditanam. Sedang seperangkat pakaian wanita beserta sesaji lengkap siap dilarung sebagai persembahan kepada Ratu Kidul.Seperangkat labuhan itu kemudian dibawa menuju pinggir laut. Sebelumdilarung, juru kunci kembali membakar kemenyan. Setelah selesai, tim SAR Parangtritis kemudian membawa tiga buah tandu itu ke tengah lautan. Namun belum sampai ke tengah laut, ratusan warga sudah merayahnya.Beberapa orang warga yang berhasil mendapatkan perangkat labuhan sepert kain tampak senang. Mereka yang tidak ikut merayah, berani menawar satu lembar kain semekan mekar dengan harga Rp 50 ribu. Namun tidak begitu saja tawaran itu diterima. Kain hasil rayahan itu baru akan dilepas dengan harga Rp 100 ribu. Dan setelah tawar menawar, disepakati harga Rp 70 ribu. Warga juga berebut sisa kembang setaman yang ikut dilarung tanpa harus membeli.
(bgs/djo)











































