Potongan Rambut dan Kuku Sultan Dilarung di Pantai

Potongan Rambut dan Kuku Sultan Dilarung di Pantai

- detikNews
Selasa, 14 Agu 2007 13:42 WIB
Yogyakarta - Potongan rambut, kuku dan seperangkat pakaian raja Kraton Yogyakarta dilarung di Pantai Parangkusumo, Bantul. Prosesi itu untuk memperingati bertahtanya Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja di Kraton Yogyakarta.Prosesi labuhan alit digelar Selasa (14/8/2007) bertepatan dengan 30 Rajab berdasarkan kalender Jawa. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dari pendopo Kecamatan Kretek di Jl Parangtritis Km 20 atau sekitar 4 kilometer dari Parangkusumo, kawasan Parangtritis. Selanjutnya berbagai perangkat labuhan dibawa abdi dalem kraton menuju Cepuri Parangkusumo untuk diserahkan kepada juru kunci Raden Penewu (RP) Suraksotarwono.Sebelum serah terima, satu persatu perangkat dibuka dan dicek. Seperangkat labuhan itu meliputi pakaian wanita lengkap berupa kain panjang batik motif cangkring, semekan gadhung mlati, yang ditujukan kepada penguasa laut selatan Kanjeng Ratu Kidul. Selain itu terdapat pula pakaian milik Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta kain mori, potongan rambut, potongan kuku dan sejumlah sesaji seperti bunga setaman, daun sirih, kemenyan minyak wangi dan uang kepeng seratusan. Semuanya sudah terbungkus dan tertata rapi.Berbagai perangkat labuhan yang diusung tiga buah tandu dari bambu itu dibawa menuju Cepuri Parangkusumo yang dipercaya sebagai pintu masuk Kraton laut selatan. Di depan batu hitam di cepuri, juru kunci RP Suraksotarwono berdoa memohon izin dimulainya labuhan. Dia bersama para abdi dalem menabuhkan di bunga, minyak wangi dan membakar kemenyan di atas dua buah batu tersebut.Selanjutnya di salah satu sudut cepuri, seperangkat pakaian bekas milik Sultan beserta potongan rambut dan kuku ditanam. Sedang seperangkat pakaian wanita beserta sesaji lengkap siap dilarung sebagai persembahan kepada Ratu Kidul.Seperangkat labuhan itu kemudian dibawa menuju pinggir laut. Sebelum dilarung, juru kunci kembali membakar kemenyan. Setelah selesai, tim SAR Parangtritis kemudian membawa tiga buah tandu itu ke tengah lautan. Namunbelum sampai ke tengah laut, ratusan warga sudah merayahnya.Beberapa orang warga yang berhasil mendapatkan perangkat labuhan seperti kain tampak senang. Bahkan beberapa orang yang berada di pinggir laut, tidak ikut merayah berani menawar satu lembar kain semekan mekar dengan harga Rp 50 ribu. Namun oleh warga sekitar yang mendapatkannya akan dilepas dengan harga Rp 100 ribu. Setelah terjadi tawar menawar akhirnya disepakati dengan harga Rp 70 ribu. Sementara itu ada warga lainnya yang mengambil sisa kembang setaman yang ikut dilarung tanpa harus membeli. (bgs/asy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads