Kehidupan Kolong Tol
Ada Orang Kaya yang Bertahan
Selasa, 14 Agu 2007 08:59 WIB
Jakarta - Kehidupan kolong tol tidak hanya didominasi oleh warga miskin. Di bawah kolong tol juga ada orang kaya yang terus bertahan. Memang, mereka dulu adalah orang miskin. Namun, karena usahanya sukses, mereka bisa jadi kaya. Tapi, mereka tetap bertahan berdiam di tempat itu.Jumlah orang kaya di bawah kolong tol memang tidak banyak. Hanya ada segelintir orang. Mereka memiliki mobil dan perabot rumah tangga yang lengkap. Sebut saja Sastro (40), warga kolong tol Jembatan Tiga yang rumahnya tidak terkena sambaran api kebakaran 7 Agustus lalu.Di lingkungannya, ia dikenal sebagai pengepul besi tua. Dia peroleh dari pabrik dan disetor ke pabrik lagi. Usaha Sastro itu bermula dari memungut besi tua kecil-kecilan ketika baru merantau ke Jakarta tahun 1980-an. Atas usahanya itu, ia sempat naik haji dua kali. Bahkan juga sempat memberangkatkan ayahnya ke Tanah Suci untuk berhaji.Sayang, ketika hendak ditemui di rumahnya, Senin (13/8/2007) kemarin, Sastro sedang tidak berada di tempat. Begitu juga istrinya. Hanya saja tetangga-tetangganya membenarkan tentang kekayaan Haji Sastro. "Dulu ya seperti kami, memulung. Mungkin rezekinya beda, hartanya tambah banyak," cetus Hamid (33), tetangga Haji Sastro.Orang kaya juga hidup di bawah kolong Tol Lodan. Haji Hari (65) dikenal sebagai pengumpul besi tua yang sukses. Kini usahanya terus bekembang ke bisnis penampungan kardus bekas, peti kayu, dan plastik bekas. Dia juga telah mempunyai truk sendiri untuk melancarkan usahanya.Lantas, kenapa ia tak beranjak dari kolong tol? "Ya belum ada alasan. Di sini masih nyaman saja," ucap Haji Hari yang terlihat sibuk mengawasi pekerjaan anakbuahnya. Ia mengaku masih enggan pindah karena ia merasa tidak mengganggu lingkungan. Selain itu, nampaknya ia sudah menikmati previlese sebagai orang kaya kolong tol. "Tetangga juga pada masih di sini. Kalau mau digusur, ya pindah saja," jawab dia enteng.
(asy/nrl)











































