Pasien yang Meninggal di Bali Positif Flu Burung
Senin, 13 Agu 2007 14:50 WIB
Jakarta - Pasien suspect flu burung asal Bali yang meninggal Minggu 12 Agustus kemarin sore, dinyatakan positif terjangkit flu burung. Kepastian tersebut berdasarkan hasil laboratorium Litbangkes Depkes dan Lembaga Eijkman Jakarta."Baru saja beberapa menit yang lalu saya mendapat informasi dan konfirmasi bahwa ibu berinisial NSW, usia 29 tahun, yang meninggal kemarin sore positif flu burung, baik dari Litbangkes maupun Eijkman," kata Ketua Komnas Flu Burung dan Pandemi Influenza (FBPI) Bayu Krisnamurthi dalam jumpa pers di sekretariat FBPI, Jl Abdul Muis, Jakarta Pusat, Senin (13/8/2007), pukul 13.30 WIB.Satu bulan sebelumnya, lanjut Bayu, memang terjadi kematian unggas di dusun NSW. Bahkan pada saat itu, telah dilakukan pemusnahan terhadap unggas yang terindikasi terjangkit flu burung.NSW sendiri berasal dari Dusun Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Sebelum NSW terjangkit atau menjadi suspect flu burung, putranya yang berusia 5 tahun, meninggal setelah kematian unggas tanggal 3 Agustus 2007. Namun, Komnas FBPI bersama Depkes belum bisa memastikan apakah putra NSW meninggal karena virus avian influenza atau bukan."Putranya NSW sudah keburu dikubur. Jadi kami belum bisa memastikan penyebab meninggalnya," tutur pria berkacamata ini.Selain NSW dan putranya, Bayu juga mengatakan 1 orang lagi pasien suspect flu burung yang satu dusun dengan keduanya. Saat ini, pasien itu sedang dirawat di RS Sanglah Denpasar, Bali. Pasien yang belum diketahui namanya itu berusia 2 tahun 9 bulan. Saat ini kondisinya sudah semakin membaik, dan belum diketahui positif atau tidaknya terjangkit avian influenza.Kasus Pertama pada ManusiaKasus flu burung di Bali ini, ujar Bayu, hingga kini sudah terjadi 103 kasus flu burung, dengan 82 orang meninggal. Kasus pada manusia ini merupakan yang pertama kali terjadi di Provinsi Bali. Sejak tahun 2003, imbuh Bayu, Bali sudah dinyatakan status endemis flu burung pada unggas. Sejak saat itu, Komnas FBPI dengan Depkes dibantu World Health Organization (WHO) melakukan pencegahan agar tidak terjadi penularan terhadap manusia."Bali ini sudah endemis sejak 2003. Bahkan kita sudah tahan (agar tidak menular pada manusia-red) tapi akhirnya kebobolan juga. Dan kasus NSW ini yang pertama pada manusia terjadi di Bali," ujar dia.Dengan kenyataan tersebut, FBPI akan terus meningkatkan upaya pencegahan dengan meningkatkan intensitas vaksinasi pada unggas dan penyuluhan kepada masyarakat termasuk para wisatawan.
(nwk/nrl)











































