Profil Singkat
Ki Dullah, Kiai Penyangga Umat
Jumat, 10 Agu 2007 09:13 WIB
Cirebon - Tak cuma kaum nahdliyin yang menangisi wafatnya KH Abdullah Abbas. Kalangan non-nahdliyin pun merasa kehilangan kiai berpengaruh ini.Dalam jajaran alim ulama, Ki Dullah, panggilan Abdullah, adalah salah satu kiai khos yang menjadi rujukan umat Islam di Tanah Air. Situs resmi Ponpes Buntet, buntetpesantren.com, menyatakan, banyak orang yang menyebutnya sebagai "penyangga masyarakat."Di panggung politik, Ki Dullah turut menentukan. Pada 29 September 1999 misalnya, berkumpulah para tokoh nasional di rumahnya. Mereka adalah Amien Rais, Fuad Bawazir, Gus Dur, Alwi Shihab dan sejumlah kiai NU lainnya. Pertemuan itu untuk membicarakan pencalonan Gus Dur sebagai presiden. Saat itu Amien Rais dari Poros Tengah dapat meyakinkan beberapa kiai NU bahwa dirinya akan sungguh-sungguh dalam mendukung Gus Dur sebagai calon presiden. Namun beda dengan Ki Dullah yang mempunyai penilaian lain. Ki Dullah justru meragukan ketulusan Amin Rais. Keraguan tersebut diucapkan langsung di hadapan Amien Rais. Tapi Amin Rais dapat pula meyakinkan kiai sepuh itu. "Maka ketika dugaan Kiai Abdullah Abbas terjadi, yaitu Gus Dur 'didongkel' di tengah jalan oleh Poros Tengah, Kiai Abdullah Abbas, yang paling lantang bersuara," demikian biografi Ki Dollah yang tertulis dalam situs resmi ponpes Buntet. Sehari setelah Gus Dur 'digulingkan', di rumah Kiai Abdullah Abbas diadakan pertemuan kiai khos. Dalam jumpa persnya, Kiai Abdullah Abbas mengatakan presiden bukanlah persoalan main-main. Memilih presiden berarti menentukan corak dan watak negara. Jadi memilih presiden harus dengan dukungan yang tulus dan ikhlas dalam membangun bangsa. Kepentingan bangsa ini sangat diprioritaskan oleh Ki Dullah. Maklum, Ki Dullah turut mengangkat senjata ketika perang melawan penjajahan Belanda puluhan tahun silam. Ki Dullah melawan Belanda di Sidoarjo bersama Mayjen Sungkono. Ki Dullah aktif menjadi pasukan Hisbullah, bahkan menjadi Kepala Staf Batalyon Hisbullah. Ki Dullah juga menjadi anggota Batalyon 315/Resimen I/Teritorial Siliwangi dengan pangkat Letnan Muda.Ki Dullah adalah anak pertama Kiai Abbas, ulama Cirebon yang dihormati. Ki Dullah lahir di Buntet pada 7 Maret 1922. Sepeningal sang ayah, Ki Dullah membesarkan pesantren Buntet.Sebagaimana sang ayah, Ki Dullah juga dihormati masyarakat luas karena tidak membeda-bedakan manusia baik dari segi ras, agama maupun keturunan. Maka wajar bila rumah Kiai Dullah sering kedatangan tamu, baik pejabat seperti presiden, gubernur, bupati, bintang film dan rakyat kecil.Dalam pengajian kitab kuning, Ki Dullah cenderung mengajarkan kitab-kitab yang sederhana dan simpel, seperti kitab Safinah Annajah, Sulam Annajah, Sulam Attaufiq, Uquduljain dan kitab-kitab yang relatif tipis. Hal ini sesuai prinsip yang dianut Ki Dullah yaitu ajarkan Kitab Safinah (dengan bahasa yang sedrhana) dengan wawasaan Ihya Ulumuddin (penjelasan yang komprehensif)".
(nrl/umi)











































