Cerita Gempa dari Lantai 41 Apartemen Taman Anggrek
Kamis, 09 Agu 2007 07:37 WIB
Jakarta -
Dari lantai 2 saja gempa Jakarta 7 SR sudah membuat lintang pukang, apalagi dari lantai di atas itu ya? Dania Ciptadi menceritakan ketegangan akibat gempa dari lantai 41 Apartemen Taman Anggrek, Slipi, Jakarta Barat.Berikut kisah Dania, Kamis (9/8/2007):Saya tinggal di lantai 41 Apartemen Taman Anggrek (TA), Slipi. Ketika gempa terjadi untungnya saya masih di ruang tengah, berada di depan laptop saya sehingga dapat langsung merasakan. Pertama saya mendengar seperti ada suara orang di unit atas saya melompat-lompat, saya sempat kesal karena untuk apa orang lompat-lompat tengah malam. Tidak lama kemudian saya mulai merasakan goncangan hebat, lalu saya melihat lampu-lampu gantung memang sudah berayun cukup keras. Saya tunggu beberapa detik untuk melihat situasi dulu, dan ternyata gempa tidak sedikit pun berkurang. Saya langsung membangunkan seisi rumah dan mengambil barang penting seadanya, baju ganti pun tidak sempat membawa. Berbekal piyama saya turun dengan keluarga ke lantai Community Center (lantai 7 dari tanah) yang lapangannya terbuka luas dan ternyata sudah banyak sekali orang yang berkumpul disitu (daerah tersebut memang digunakan untuk lokasi darurat kebakaran). Kami sempat berdiam disitu selama kira-kira 15 menit sebelum akhirnya kami memutuskan untuk ke mobil (untungnya saya sempat ambil kunci mobil beserta STNK dan karcisnya) dan turun ke lobi bawah, bergabung dengan orang-orang lain yang sudah "menyentuh" tanah duluan. Di bawah ternyata juga riuh. Mobil-mobil bertumpukan parkir di kitaran lobi dan pinggir jalan TA. Orang-orang yang turun ke bawah bahkan ada yang sampai duduk di pinggir trotoar seberang TA (di bawah iklan layar bioskop). Karena takut ada gempa susulan, akhirnya kami memutuskan untuk menginap di rumah saudara yang berdekatan. Dalam perjalanan ke rumah saudara, kami cukup banyak melihat mobil-mobil yang menepi di jalan tol, mungkin menunggu sampai keadaan aman baru lalu melintas kembali. Pagi ini ketika kami kembali ke apartemen kami, tidak ada kerusakan berarti. Hanya saja cat di kamar retak-retak. Semoga saja hanya catnya yang berderak dan tidak ada retak apa pun di badan gedung sebenarnya.Ketika beberapa bulan lalu terjadi gempa 6.0 SR petang hari di Jakarta, saya juga berada di dalam apartemen, tetapi saat itu saya masih berani untuk tidak meninggalkan apartemen karena hanya ada ayunan lampu gantung dan selang beberapa detik kemudian gempa sudah berhenti. Semalam saya memutuskan untuk membangunkan seisi rumah karena selain getaran gempa tidak kunjung berkurang, saya juga merasakan goyangan yang jauh lebih hebat dari gempa yang terakhir tersebut, selain juga terdengar suara berderak-derak seakan gedung mulai retak-retak dan bersiap runtuh.
(nrl/anw)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































