Pilkada di Kep Seribu Merepotkan, Ada Kartu Pemilih Ganda
Rabu, 08 Agu 2007 13:00 WIB
Jakarta -
Kepulauan seribu ditempuh hanya satu jam dari Jakarta. Namun, infrastruktur perhubungan tidaklah semewah Jakarta. Dari satu pulau ke pulau lain hanya dihubungkan dengan kapal kayu berperahu tempel. Sementara aliran listrik dan komunikasi nonseluler belumlah sebaik di Jakarta daratan.Tak heran, saat menjalankan agenda besar Pilkada DKI, kekeliruan teknis banyak dijumpai dilapangan. Seperti saat TPS 10 Terapung Kelurahan P. Panggang mengunjungi Pulau Nusa Keramba.Saat itu, pukul 10.30 WIB, Rabu (8/8/2007), puluhan pekerja peternakan ikan laut itu masih sibuk memilah bibit ikan. Sebagian tengah memanggul karung pakan ikan ke atas perahu kayu. Ketika kapal motor Dewi Purbasari yang membawa TPS 10 merapat ke P. Nusa Keramba, pekerja peternakan itu gagap. Ada yang bingung, ada yang tenang dan ada yang tergopoh-gopoh mengambil kartu pemilih. "Saya sudah menunggu untuk memilih dari pagi," kata Robert Subeno (24), warga RT 4/5 Kelurahan P. Panggang, diatas geladak kayu pulau itu. Namun, ia belum dapat mencoblos saat itu juga. Lantaran, saat ia hendak memilih, ia disambangi temannya, Bayu, yang memberikan kartu pemilih.Jadilah ia memegang dua kartu pemilih sekaligus. Satu atas nama Robert Subeno, satunya lagi atas nama Robert Beno. "Kalau yang pertama dari petugas yang dititipkan ke teman saya, yang satunya dari teman. Saya tidak tahu kok bisa dobel," ucap Beno bingung.Dan dalam masing-masing kartu pemilih itu, TPS yang dimaksud berbeda yakni untuk TPS 7 (P. Pramuka) dan TPS 9 (P. Pramuka). "Hebatnya", Subeno alias Beno juga masuk daftar pemilih untuk TPS 10 yang tengah singgah di P. Keramba itu.Namun, Beno lebih memilih mengalah. Ia menyerah untuk menaiki kapal kayu, menuju P. Pramuka yang berjarak hanya 10 menit dari P. Karamba. Tak hanya Beno, Sumiati (26) juga kecewa. Ia harus pulang terlebih dahulu ke P. Panggang untuk mengambil surat pemilih yang tertinggal. Namun saat hendak mencoblos di TPS 10 Terapung, ia terhentak. Dalam kartu pemilih itu, ia bukannya memilih di TPS 10, tetapi di TPS 5 Pulau Panggang. Jadilah Sumiati bolak-balik dari P. Keramba-P. Panggang yang berjarak tempuh 10 menit sekali jalan. Jadilah proses pencoblosan di P. Nusa Keramba sedikit tersendat. Karena yang tertinggal tidak hanya Sumiati, tapi juga kedua temannya, Diana dan Badriah. Total, jumlah pemilih di P. Keramba hanya 19 orangSebelum menghampiri P. Keramba, TPS 10 Terapung merapat ke pulau wisata, P. Kotok. Namun, petugas TPS tak menjumpai satu warga pun yang hendak mencoblos. Hanya tiga perahu speedboat bersandar di dermaga pulau cantik itu. Sementara kondisi pulau lengang. Cuma, satu penjaga pantai yang terlihat."Saya nggak milih, KTP Banten. Nggak ada orang, pada pulang semua," cetus Priyo (22), penjaga P. Kotok.TPS 10 cukup menjaring pemilih di P. Air sebanyak 4 pemilih. Sehingga total pemilih di TPS 10 itu hanya 23 orang.Kesulitan geografis itu diakui oleh Ketua KPUD Kab Kep. Seribu, Tobaristani saat ditemui detikcom di TPS IX P. Pramuka. "Dianggarkan, Biaya transport 100 ribu. Itu tidak cukup untuk Kep. Seribu. Untuk itu, kami mengajukan enam kapal speedboat, dianggarkan sebanyak Rp. 49.500.000. Pulau yang terjauh 8 jam naik kapal biasa, naik speedboat cuma 3-4 jam," kata Toba."Ini persoalan geogafis. Untuk yang terjauh, P. Sebira yang berjumlah pemilih 300-an satu TPS. Alat komunikasi nggak ada. Ini kendala, kalau-kalau ada masalah," sambung dia.
(Ari/asy)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































