Aneka Kejutan di Pilkada DKI

Aneka Kejutan di Pilkada DKI

- detikNews
Rabu, 08 Agu 2007 06:29 WIB
Jakarta - Hajatan besar warga DKI akhirnya digelar hari ini, Rabu 8 Agustus 2007. Pesta demokrasi lima tahunan ini sangat menentukan nasib Ibukota ke depan.Dalam prosesnya, pilkada DKI penuh lika-liku politik. Sebelum akhirnya menunjukkan kenyataan bahwa Pilkada DKI hanya diikuti dua pasangan calon, yaitu Adang Daradjatun-Dani Anwar yang hanya diusung satu parpol yakni PKS, dan pasangan Fauzi Bowo-Prijanto yang diusung 20 parpol.Jika menilik kebelakang, dinamika politik Pilkada DKI bisa disebut paling fenomenal dibanding pilkada lain di Tanah Air. Selain karena faktor diselenggarakan di Ibukota, juga disebabkan peserta pilkada yang hanya diikuti dua pasangan calon. Munculnya dua pasangan calon ini tidak terlepas dari proses pergulatan politik yang panjang. Sentimen ideologis pada awalnya menjadi pembuka mengapa cagub incumbent didukung banyak parpol untuk menghadapi PKS yang lebih dulu mendeklarasikan Adang-Dani sebagai pasangan cagub-cawagub.Dukungan PDIP, Partai Demokrat, Partai Golkar, dan parpol-parpol lainnya terhadap Fauzi cukup mengagetkan. Sebab hingga detik-detik terakhir di pertengahan April 2007 silam, tiga parpol yang disebutkan pertama itu masih menggadang-gadang nama lain hingga akhirnya 16 parpol beramai-ramai mendukung Fauzi.Sinyalemen bahwa pilkada DKI hanya akan diikuti oleh dua pasang calon ketika itu masih lemah. Faktornya, masih tersisa PAN, PKB dan sejumlah parpol kecil non-parlemen yang belum memutuskan sikap. Ditambah harapan yang besar warga DKI agar pilkada diikuti lebih dari dua peserta.Sejumlah nama seperti Faisal Basri, Agum Gumelar dan Sarwono Kusumaatmadja mencoba peruntungan menjadi cagub dari parpol-parpol yang tersisa. Namun kejutan kedua terjadi di pertengahan Juni, yang sekaligus menghempaskan harapan mereka menjadi bakal calon gubernur DKI. Parpol-parpol yang tersisa, yakni PAN, PKB dan Forum Lintas Parpol (FLP) ternyata lebih tertarik untuk mendukung Fauzi.Kejutan lain yang terjadi hampir bersamaan adalah kemunculan nama mantan Aster KSAD Mayjen Prijanto sebagai pendamping Fauzi. Prijanto tidak melalui mekanisme parpol dalam menetapkan calon. Munculnya Prijanto menghempaskan nama-nama lain dari kalangan purnawirawan TNI yang telah berjuang keras 'menarik hati' parpol, seperti Slamet Kirbiyantoro, Djasri Marin, Asril Tanjing, Abdul Wahab Mokodongan, Bibit Waluyo, maupun senator Biem Benjamin yang juga keturunan seniman legendaris Benjamin S.Harapan agar pilkada diikuti lebih dari dua pasang calon pun pupus. Dinamika politik internal parpol manghasilkan harapan lain. Hingga pada pendaftaran pasangan calon pada pertengahan Juni, hanya dua pasangan calon yang mendaftar sebagai peserta pilkada DKI.Selain itu, angin calon independen untuk ikut serta dalam pilkada ini pun ikut berhembus. Berangkat dari kekecewaan sejumlah kandidat terhadap sikap politik 20 parpo, calon independen membangkitkan kembali harapan warga DKI agar peserta Pilkada DKI diikuti lebih dari 2 pasangan. Namun ternyata, revisi UU 32/2004 yang meloloskan calon independen terjadi pada menit terakhir pilkada.Meski lolos, keputusan revisi tersebut tidak mempengaruhi proses pilkada. Harapan kembali pupus. Kenyataan politik tersebut, semakin mengentalkan dugaan sentimen ideologis dalam pergulatan politik Pilkada DKI. Akhirnya, pasangan Adang-Dani yang hanya diusung PKS harus berhadapan dengan oligarki 20 parpol yang mengusung Fauzi-Prijanto.Kepada siapa dukungan dan simpati 5,7 juta warga DKI yang memiliki hak pilih akan ditujukan? Akan dibuktikan hari ini, saat pencoblosan Pilkada DKI Jakarta. (rmd/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads