Siap Tidak Siap, Warga Jakarta Harus Punya Gubernur Baru
Selasa, 07 Agu 2007 16:33 WIB
Jakarta - Proses Pilkada DKI dinilai tidak sempurna. Masyarakat terpaksa harus menerima kedua calon yang ada. Sebab siap atau tidak siap, Jakarta harus punya gubernur baru.Demikian kesimpulan yang dipetik dari diskusi tentang Pilkada DKI di kantor Terminal Aspirasi Warga Jakarta, Jalan Tebet Barat VIII, Jakarta Selatan, Selasa (7/8/2007)."Ketidaksempurnaan pilkada ini dari segi hukum, di mana calon hanya ada dua. Ini membuat kita terpaksa menerima pilkada. Ini harus kita akui, mau tidak mau, siap atau tidak siap kita harus punya gubernur baru," tegas anggota DPD Sarwono Kusumaatmadja. Sarwono yang gagal mencalonkan diri ini menilai awalnya Pilkada DKI memang disambut antusias. Tetapi dalam prosesnya ternyata lebih buruk dibandingkan daerah lain. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kasus dan kejadian serta kekacauan yang ada.Contohnya, calon yang hanya dua orang, pendaftaran pemilih dan ketidakberesan kartu pemilih. Soal kartu pemilih, informasi yang diperolehnya ada satu warga yang memiliki tiga kartu pemilih.Namun begitu, dia berharap ketidaksiapan pilkada dibarengi iklim ketertiban umum yang lebih baik, sehingga pilkada bisa sukses.M Qodari dari lembaga riset Indo Barometer sependapat dengan Sarwono. Pilkada DKI harusnya menjadi barometer dari pilkada di daerah, meski kenyataannya tidak sesuai harapan."Perjalanannya jauh dari harapan, mungkin lebih buruk dari pilkada yang sudah dilakukan di sejumlah daerah," kata dia.Ini terlihat dari sistem pencalonan, pendaftaran pemilih, pembagian kartu pemilih sampai kampanye yang dinilai tidak sesuai harapan.Namun dia mengaku sulit memprediksi siapa yang bakal menang dari kedua calon yang bertarung dalam pilkada nanti.
(umi/nrl)











































