Retak dan Lubang Jembatan Ampera

Retak dan Lubang Jembatan Ampera

- detikNews
Senin, 06 Agu 2007 08:04 WIB
Palembang - Mungkin sesuai dengan namanya, Amanat Penderitaan Rakyat atau Ampera, jembatan itu benar-benar 'menderita.' Sejak berdiri, jembatan Ampera harus menahan derita atas kencing manusia, pencurian, dan ditabrak tongkang.Aktivitas orang kencing di jembatan Ampera, bukan suatu hal aneh. Berdasarkan pemantauan, hampir setiap hari orang yang melintas jembatan Ampera, bila kebelet ingin buang air kecil, khususnya pria, langsung menuju pojok tiang jembatan, atau bagian tangga jembatan. Mereka pun membuangnya di sana. Kencing ini, secara tidak sadar, membuat besi-besi penyanggah jembatan Ampera menjadi berkarat.Lalu, pencurian onderdil jembatan Ampera juga sering dilakukan. Puncaknya pada eforia reformasi tahun 1998 lalu, sejumlah onderdil jembatan ini diketahui dipreteli pencuri, seperti kawat atau besi penyanggah tiang atas jembatan. Para pencuri memanjat menara jembatan, dan memotong beberapa onderdil jembatan yang sudah tidak berfungsi.Selanjutnya, beberapa kapal tongkang atau tugboat menabrak tiang jembatan Ampera. Misalnya seperti tahun 2006 lalu, sebuah tugboat membawa ribuan ton batubara menabrak tiang jembatan Ampera. Ampera pun bergetar. Akibat kencing, pencurian, dan ditabrak tugboat, kondisi jembatan Ampera terus memprihatinkan. Berdasarkan pemantauan, kerusakan di lapisan permukaan jembatan atas Ampera, terdapat lubang berdiameter sekitar 25 centimeter. Sementara di bagian bawah jembatan, terdapat keretakan mencapai 50 - 70 cm. Sementara pilar penyangga jembatan juga terdapat kerusakan. Menurut Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Sumsel, Heldi Sabri, kepada pers, di Palembang, beberapa waktu lalu, kerusakan terjadi pada selimut atau lapisan terluar pondasi pilar jembatan Ampera. Terutama yang berada di dalam air."Coba lihat kalau kondisi air surut, banyak sekali kerusakan pada selimutnya," kata dia. Tepatnya, hampir sebagian besar pondasi mengalami pengeroposan. "Jika tidak segera diperbaiki, maka bisa semakin parah dan mempengaruhi konstruksi pondasi," kata Heldi. Sayangnya, kata Heldi, baru kondisi fisik atau visual mata yang terpantau. Sedangkan kondisi struktur seperti ketahanan jembatan Ampera terhadap beban yang melintas atau berada di atasnya, belum dapat diketahui. Perlu dilakukan perhitungan atau loading test yakni jembatan diberi beban tertentu untuk mengukur kekuatannya menahan beban. "Biaya untuk loading test relatif besar dan belum dianggarkan," kata Heldi seraya mengatakan jembatan Ampera berstruktur baja dengan pondasi tiang pancang memiliki usia ekonomis sekitar 100 tahun. Artinya, masih dapat bertahan hingga 50 tahun lagi. (tw/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads