Dimusuhi Lingkungan IPDN, Inu Tinggalkan Rumah Dinas
Minggu, 05 Agu 2007 16:32 WIB
Bandung - Inu Kencana menyerah. Dosen IPDN yang dikenal vokal ini sudah tak tahan lagi tinggal di lingkungan IPDN. Dia pun memilih meninggalkan rumah dinasnya yang telah dihuninya belasan tahun."Suasananya sudah tidak kondusif lagi. Mereka (sivitas akademika IPDN-red) menunjukkan sikap yang tidak menyenangkan," ujar Inu kepada wartawan di rumah Wendi Budiman, korban pengeroyokan praja IPDN, di Kampung Cikeruh Kecamatan Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Minggu (5/8/2007).Alasan keluarga menjadi sebab utama mengapa Inu memilih pindah. "Kasihan sama keluarga. Kalau saya sih tidak masalah. Tapi saya akan tetap mengajar untuk mengawal mereka semua," imbuh Inu.Inu memberi contoh. Menurutnya puncak sikap tidak menyenangkan yang diterima dirinya adalah saat acara pengukuhan pamong praja pada Sabtu 4 Agustus lalu.Saat itu puluhan orangtua praja mengecam dirinya karena dinilai telah menghancurkan kredibilitas IPDN. Para orang tua juga membentangkan beberapa spanduk yang isinya mengecam Inu, antara lain "Inu bencana" dan "IPDN berduka, Inu tertawa"."Mereka itu sengaja diseting untuk memaki-maki saya. Bagaimana bisa mereka membawa karton-karton yang penuh hujatan pada saya. Saya juga heran kok pihak keamanan mendiamkannya," ujarnya dengan nada tinggi.Inu berpendapat, aksi tersebut merupakan bentuk teror bagi dirinya. Terlebih mereka meminta dirinya dipecat dari dosen di IPDN."Saya heran dengan mereka. Bagi mereka, orang yang menutupi semua kasus di IPDN adalah pahlawan. Seharusnya kan yang membuka, itu baru namanya pahlawan. Berbahaya jika paradigma tentang pahlawan saja mereka salah," ungkap Inu.Ketika ditanya apakah dirinya dan keluarga sudah mendapatkan rumah baru, Inu menjawab hingga saat ini dirinya masih mencari. "Sekarang semua mahal-mahal," cetus Inu sambil tertawa.
(ndr/nrl)











































