Pansel KPU Harus Berani Seleksi Ulang Calon yang Tidak Lolos

Pansel KPU Harus Berani Seleksi Ulang Calon yang Tidak Lolos

- detikNews
Jumat, 03 Agu 2007 11:32 WIB
Jakarta - Hasil sementara seleksi calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) oleh Pansel KPU tidak memuaskan. Pansel KPU pun dianjurkan berani menyeleksi ulang calon yang tidak lolos.Sebab tokoh-tokoh beken yang sudah mempunyai reputasi di masyarakat tidak ada yang masuk dalam 45 calon yang lolos.Usulan seleksi ulang itu disampaikan anggota Pansel Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Daniel Sparingga saat dihubungi detikcom. Berikut petikan wawancaranya:Tanggapan soal hasil sementara calon anggota KPU?Mungkin publik perlu tahu, pada saat ini harusnya Pansel KPU menjelaskan tentang seluruh logika yang dipakai dalam proses seleksi. Tes tertulis seperti apa, menggunakan alat apa, isu apa saja yang ditanyakan, dan sebagainya.Soal psikotes yang dijadikan ukuran?Yang perlu dijelaskan juga oleh pansel, mengapa psikotes ditaruh di bagian depan, dan mengapa pemotongan jumlah calon begitu tajam pada tahap seleksi awal. Ini perlu dijelaskan pada publik berikut argumentasinya.Tes psikologi itu selain menguji terhadap disposisi orientasi yang bersifat psikologis, juga memuat secara penting tes IQ. Orang yang sudah berkarier di KPU berarti sudah di atas rata-rata, harusnya tidak dipakai dengan orientasi psikologi.Berarti psikotes diletakkan di awal seleksi tidak efektif?Memperhatikan ada beberapa nama calon yang hebat, dan mereka tidak masuk dalam sekadar psikotes itu, memperlihatkan cara itu punya kekurangan. Bahayanya sistem menggunakan kerucut memang menakutkan kadang, karena meskipun menggunakan banyak alat, pada dasarnya memakai single approach.Harusnya seperti apa?Kalau saya jadi Pansel KPU, pasti saya akan membawanya ke dalam sidang pleno untuk membuka peluang untuk evaluasi menyeluruh terhadap tahapan seleksi, termasuk kemungkinan untuk memberi kesempatan lagi kepada calon yang tidak lolos untuk ikut ke seleksi berikutnya. Pansel juga harus berani mengambil risiko sedikit buruk rupa, tetapi menghasilkan tokoh yang baik.Bedanya dengan proses penyeleksian di KPK?Itu yang menyebabkan mengapa di KPK ada kesadaran, meskipun ada validitas. Tapi memberi ruang untuk penafsiran untuk masuknya pikiran-pikiran baru yang membuat output dari tes itu dievaluasi.Berarti sistem yang digunakan oleh KPK lebih efektif?Betul. Pansel KPK sejak awal hanya awal untuk membuat judgement secara keseluruhan pada profile assessment. Selanjutnya meminta kepada lembaga yang menyelenggarakan itu memberi porsi yang lebih besar pada personal yang berbasiskan pada karakter dan personal.Tokoh tidak terkenal tidak jaminan membawa KPU lebih baik?Ini bukan soal terkenal tidaknya. Kita tahu tes-tes ini pada umumnya berbasiskan kecenderungan orang. Orang-orang yang sudah punya banyak pengalaman sebenarnya sudah bercitra baik dan punya reputasi. (anw/sss)


Berita Terkait