Survei LSI: Peluang Fauzi Besar, Adang Diduga Raih 20,5% Suara
Jumat, 03 Agu 2007 11:19 WIB
Jakarta -
Pencoblosan pemilihan Gubernur DKI Jakarta tinggal lima hari lagi. Lembaga Survei Indonesia (LSI) memprediksi peluang Fauzi Bowo-Prijanto menang cukup besar. Pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar dperkirakan hanya memperoleh 20,5 persen suara. "Hasil temuan survei LSI menunjukkan bahwa peluang Fauzi-Prijanto untuk memenangkan Pilkada DKI Jakarta tanggal 8 Agustus nanti sangat besar dengan perolehan suara yang signifikan," kata Direktur LSI Saiful Muzani dalam jumpa pers hasil penelitian lembaga itu tentang prediksi perolehan suara nanti di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta, Jumat (3/7/2007).Menurut Saiful, temuan ini merupakan hasil survei yang dilakukan mulai 30 Juli-2 Agustus 2007 di 102 kelurahan di wilayah DKI Jakarta. Sebanyak 1.020 responden diteliti dengan menggunakan metode multistage random sampling. Tingkat kesalahan dalam pengumpulan data sekitar 3 persen pada tingkat kepercayaan sebayak 95 persen.Dijelaskan Saiful, dari semua responden yang ditanya soal pilihan yang pantas didukung saat pencoblosan nanti, hampir 56,5 persen menjatuhkan pilihannya kepada Fauzi Bowo. Dukungan kepada Adang Daradjatun hanya sekitar 20,5 persen, serta responden yang tidak menjawab atau menjawab rahasia sekitar 23 persen.Suara responden yang 23 persen ini kemungkinan masuk ke pasangan Fauzi-Prijanto atau Adang-Dani ataumungkin merata. LSI juga menemukan kemungkinan responden mengubah pilihannya sangat kecil atau 5 persen, atau hampir tidak mungkian (35,2 persen)."Secara umum, kampanye yang sedang berlangsung ini tidak mengubah perilaku pemilih. Sebelum dan sesudah tiga hari kampanye, jumlah pemilih Adang dan Fauzi tidak berubah. selisihnya tetap 32-34 persen, di mana Fauzi lebih unggul," jelas Saiful.Diungkapkan Saiful, tidak banyaknya pengaruh kampanye ini disebabkan warga sudah memutuskan pilihannya sebelum masa kampanye. Sementara kualitas dan intensitas kqmpanye relatif imbang, tidak ada lawan yang lebih unggul, materi kampanye terpaku pada slogan dan dangkal."Karenanya, kampanyenya tidak mampu membongkar pilihan yang telah ditentukan. Kampanye sejauh ini tidak punya pengaruh terhadap pemilih," ucap dia.
(zal/asy)










































