Validitas Tes Kesetiaan Calon Anggota KPU Dipertanyakan

Validitas Tes Kesetiaan Calon Anggota KPU Dipertanyakan

- detikNews
Rabu, 01 Agu 2007 13:16 WIB
Jakarta - Munculnya nama-nama baru calon anggota KPU mengejutkan dan mengecewakan banyak pihak. Validitas dan reabilitas tes kesetiaan -- salah satu materi psikotes -- yang ditujukan kepada para calon pun dipertanyakan.Harusnya jika tes menyangkut pengetahuan tentang pemilu dan rekam jejak, nama-nama beken seperti Ramlan Surbakti dan Hadar Gumay dari Cetro bisa masuk."Tapi kalau misalnya yang berbau psikotes itu seperti apa? Yang menarik kan ada tes yang menyangkut kecerdasan, integritas dan kesetiaan," cetus Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari kepada detikcom, Rabu (1/8/2007).Di dunia psikologi, untuk kecerdasan sistemnya sudah teruji tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri. Tapi untuk kesetiaan, Qodari mempertanyakan validitas dan realibilitasnya, apakah sudah teruji atau belum."Kelihatannya materi tes buatan lokal. Sebab ada pertanyaan tentang Abu Dujana. Apa ini mirip tes P4 yang muatan ideologisnya sangat kental dengan ideologis tertentu? Juga rekam jejak, yang dimaksud rekam jejak seperti apa?" tanyanya.Bagaimana unsur psikologis dan rekam jejak dikombinasikan panitia seleksi (pansel) KPU itulah yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik. Karena tidak sedikit orang yang kecewa, termasuk sejumlah anggota DPR.Penjelasan kepada DPR penting, karena DPR yang akan menyeleksi calon-calon hasil seleksi pansel KPU. Dan artinya kalau mereka merasa yang disodorkan tidak memenuhi ekspektasi, tentu prosesnya bisa molor. "Jadi bukan pemilunya yang gagal, tapi prosesnya yang terganggu. Ini mungkin tidak disengaja, saya yakin tidak ada skenario besar di balik ini. Hanya sebuah proses yang hasilnya tidak diharapkan sebagian orang," bebernya.Tim pansel KPU, duga Qodari, membuat alat tes yang relatif baru yang merupakan implementasi aturan dalam UU. Namun hasilnya justru jauh dari harapan.Soal undangan pansel yang tidak mencantumkan tes psikologi kepada calon, tapi hanya tes tulis sehingga diasumsikan bukan psikotes, Qodari sulit menduga apakah pansel memang sengaja tidak berterus terang soal itu. Karena psikotes pun termasuk kategori tes tertulis."Jadi asumsi peserta saja yang meleset. Tes psikologis kan bukan uji kemampuan, bukan pengetahuan, tapi identifikasi kecenderungan atau kepribadian dan tidak perlu persiapan, tapi memunculkan apa adanya kita," tutur dia.Persoalannya, imbuh dia, kalau ini bukan tes kemampuan, maka benar, salah atau keberhasilannya, apa validitas dan realibilitasnya, harus bisa teruji."Validitas kan mengukur apa yang mau diukur, kalau mau panas ya ukurannya panas jangan dimensi lain. Realibititas alat ukur juga harus konsisten. Ini yang harus dipertanyakan kepada pansel," katanya.SpekulatifSoal skenario bahwa hasil pansel untuk menggagalkan Pemilu 2009 dinilai Qodari terlalu spekulatif."Saya kira itu terlalu jauh dan spekulatif. Memang mengejutkan bahwa ada nama-nama yang diduga atau diharapkan masuk karena pengalamannya yang sudah teruji ternyata tidak masuk," ujarnya.Padahal sejumlah nama calon memiliki track record yang sudah tidak diragukan lagi. Sehingga munculnya nama-nama baru menjadi pertanyaan semua pihak."Mekanismenya seperti apa? Ini bukan kesalahan, tapi apa karena prosesnya yang bisa bikin out put semacam ini?" tanya dia. (umi/nrl)


Berita Terkait