Anton Medan: Stres Jadi Penyebab Tawuran Napi LP Cipinang
Rabu, 01 Agu 2007 09:57 WIB
Jakarta - Kehidupan di dalam penjara yang keras apalagi di sebuah LP yang over capacity membuat para narapidana (napi) stres. Napi yang stres menjadi mudah tersinggung dan temperamental.Analisa ini diungkapkan 'alumnus' LP Cipinang Anton Medan. Dia menduga, selain karena stres, tawuran yang menewaskan 2 napi di LP Cipinang, Selasa 31 Juli 2007 dipicu perebutan uang dan siapa yang paling berkuasa di LP."Memang sejak 1985 hingga sekarang kondisi LP Cipinang lebih baik. Gesekanantarnapi sudah berkurang dan tidak terlalu parah. Baru kali ini terjadilagi," kata Anton dalam perbincangan dengan detikcom di kediamannya di Ponpes At Taibin, Kampung Sawah, Pondok Rajeg, Bogor, Jawa Barat, Selasa malam.Perkelahian antarkelompok napi yang bernuansa etnis di LP memang biasa terjadi karena berbagai persoalan. "Ini rentan untuk membuat keributan. Apalagi mereka bertemperamen tinggi," ujarnya.Biasanya, lanjut pria yang berganti nama menjadi Alifuddin El Islamy itu, di dalam LP ada kelompok yang kuat. Kelompok ini tidak semata-mata karena komunitasnya yang banyak. Tapi biasanya kelompok yang kuat adalah kelompok yang memiliki uang, punya tokoh yang kharismatik dan disegani. "Tapi yang paling utama pemimpin kelompok adalah orang yang nyalinya paling besar," tutur Anton.Dari pengamatannya, Anton menyebutkan, jika pada 1975-1977 kelompok yang berkuasa di LP Cipinang dari suku Batak, Makassar, dan Ambon, tapi sekarang kelompok Madura yang kuat.Untuk mengatasi tawuran antarnapi kembali terulang, Anton setuju dengan gagasan mantan Menkum dan HAM Hamid Awaluddin yang menerapkan kerja sosial bagi para napi. Di satu sisi, kerja sosial membantu mengatasi keterbatasan kapasitas di semua LP di Indonesia.Ditambahkan Anton, dari 424 LP di seluruh Indonesia, semuanya mengalami kelebihan kapasitas. Hampir 45 persen adalah napi kasus narkoba. "Pemerintah seharusnya mau mengajak swasta atau masyarakat membuat MoU agar para napi yang sudah menjalani 2 tahun penjara bisa kerja sosial di luar LP, seperti menyapu jalan atau membangun infrastruktur dengan gaji murah,"Syaratnya, ujar Anton, kerja sosial diberlakukan bagi napi yang terkena kasus kriminal, seperti pencurian, pembunuhan, perampokan dan sebagainya."Kecuali napi narkoba dan penipuan karena bisa berbahaya bagi yang lainnya. Ini soal karakter," tukas Anton.Namun, sayangnya, gagasan kerja sosial bagi para napi itu mentok di kalangan birokrasi yang hanya terpaku pada sistem yang ada saat ini. "Ini sebenarnya perlu kita membantu. Tapi persoalannya birokrasi kita yang sulit," tandasnya.
(bal/umi)











































