Bersikap Pragmatis, PKS Bisa Ditinggalkan Kadernya
Minggu, 29 Jul 2007 19:58 WIB
Jakarta - Sikap pragmatis PKS dalam Pilkada DKI Jakarta, justru membuat kehilangan jatinya sebagai partai dakwah. Sikap PKS ini dikhawatirkan akan berpengaruh dengan ditinggalkan kadernya yang kecewa."Sikap pragmatis ini mulai mengundang reaksi keras dari kader-kader yang tetap ingin mempertahankan prinsip-prinsip dakwah dalam membesarkan partai. Benturan inilah yang akan menimbulkan perpecahaninternal dan selanjutnya PKS akan ditinggalkan," kata pengamat politik yang juga Direktur Reform Institute Yudhi Latif saat dihubungi melalui ponselnya, Minggu (29/7/2007). Yudhi mencontohkan, dukungan PKS kepada Adang Daradjatun sebagai calon Gubernur DKI Jakarta menyebabkan partai ini terjebak dalam moralitas ganda. Di satu sisi ingin menegakan misi dakwah keagamaan,tapi di sisi lain para elitenya terpaksa mendukung program calon yang diusungnya."Sikap ini mencerminkan langkah PKS yang semakin tidak konsisten terhadap ideologi partai. Akibatnya, selain mengikis kepercayaan kadernya, juga kepercayaan masyarakat terhadap partai itu," jelas Yudhi.Yudhi juga mengatakan, sebagai partai yang mengklaim pembela moralitas agama, kenapa PKS tidak menelusuri sumber dana keuangan calon yang diusungnya itu. Walau Adang diakui memiliki jaringan yang luas, selain dukungan dana yang cukup kuat juga."Kenapa ini tidak dikritisi, kenapa langsung dirangkul, ini terkesan PKS tidak konsisten," ujarnya.Menurut pengamatan Yudhi, salah satu faktor berubah karakter partai yang dipelopori Ustad Rahmat Abdullah ini ke arah pragmatis, bisa dilihat dari target perolehan suara sebesar 20 persen dalam Pemilu 2009 nanti. Ini merupakan godaan politik PKS yang inginmasuk menjadi partai besar dengan cepat.Dalam kesempatan itu, Yudhi menilai, kepercayaan masyarakat terhadap PKS bukan soal komitmennya dalam gerakan dakwah. Tapi juga dipengaruhi buruknya kinerja partai politik yang lainnya, termasuk partai-partai besar.Dikhawatirkan Yudhi, ketika ke depan parpol yang ada semakin membaik kondisi kinerjanya, maka citra PKS bisa turun juga. "Dalam kondisi seperti ini tawar-tawaran dakwah simbolik yang selama ini sering dilakukan PKS tidak akan laku lagi," imbuh mantan peneliti LIPI ini.
(zal/ken)











































