Tjatur: Kunjungan ke Nuklir Korea Bukan Atas Nama DPR
Sabtu, 28 Jul 2007 00:27 WIB
Jakarta - Tjatur Sapto Edy, anggota Fraksi PAN, termasuk salah satu dari sejumlah anggota DPR yang diundang Kementerian Ristek 'belajar nuklir' ke Korea Selatan. Menurut Tjatur, undangan ini mengatasnamakan pribadi, bukan DPR. Jadi, secara prosedural, tidak ada masalah. "Kami ini diundang sebagai pribadi, bersama tokoh-tokoh masyarakat lain, dari PBNU, MUI Jepara, NU Jepara, Ketua KNPI, Romo Gerald Widyo Suwondo dari PGI, wartawan SCTV, dan lain-lain," kata Tjatur kepada detikcom, Jumat (27/7/2007) malam. Menurut Tjatur, orang-orang yang diundang ke Korea, terutama para anggota DPR, merupakan orang-orang yang memiliki kapabilitas. Tentang dana untuk pemberangkatan ke Korea ini, Tjatur tidak tahu. "Kami tidak tahu persis dananya dari mana. Tapi kata Kusmayanto (Menristek), dari APBN, Jetro dan Koica," ujar anggota Komisi VII DPR ini. Karena itu, bagi Tjatur, tidak ada yang salah dengan undangan ke Korea Selatan ini. "Undangan ini untuk mencari informasi untuk melihat secara langsung bagaimana sebenarnya PLTN, kemaslahatan atau kemudaratannya seperti apa," kata dia. PLTN Patut Dipertimbangkan Bagi Tjatur, PLTN patut dipertimbangkan sebagai energi masa depan. Pada tahun 2025, diperkirakan Indonesia akan membutuhkan energi 100.000 MW."Sekarang hari kita hitung. Kita akan memenuhinya pakai sumber apa? Minyak akan habis 13 tahun kemudian. Cadangan minyak kita saat ini hanya 4 miliar. Sementara pasokan gas juga tidak mencukupi," kata dia. Untuk energi listrik, sebenarnya pembangkit yang paling murah adalah PLTA. "Namun, kita ini tidak pandai menjaga kontinuitas air. Debit air di sejumlah waduk kita berkurang jauh, karena penggundulan terjadi di mana-mana," tutur dia. Karena itu, sebagai energi alternatif, PLTN perlu dicoba. Sebab, selain efisien, PLTN juga terbilang murah. "1 kg uranium bisa membangkitkan 50.000 KWH. Bandingkan dengan 1 liter BBM hanya bisa membangkitkan 4 KWH," kata lulusan ITB ini. Bila PLTN dibangun di Indonesia, maka seperti Korea, sosialisasi kepada masyarakat harus bagus. "Di Korea, saat nuklir mulai dibangun, juga ada penolakan dari masyarakat. Tapi, setelah dicoba, Korea pun berhasil. Pembangunan PLTN juga bisa memunculkan pertumbuhan ekonomi," jelas Tjatur. Karena itu, Tjatur berharap rakyat Indonesia tidak menjadi rakyat yang minder. "Kita harus punya percaya diri. Nuklir ini merupakan amanah Bung Karno. Ternyata Bung Karno telah memiliki pandangan jauh ke depan, dia telah memikirkan energi di masa depan. Kita pasti bisa, tidak usah takut dengan kebocoran, asal standar operasi kita jalankan," kata dia.
(asy/asy)











































