Dana Kampanye Fauzi-Adang
Saweran Hingga Dana Berlebih
Kamis, 26 Jul 2007 17:20 WIB
Jakarta - Demokrasi langsung memang mahal. Seperti yang tengah berlangsung di Pilkada DKI Jakarta. Atribut kampanye dua cagub dari stiker, spanduk, sewa sound system, bayar artis jadi jurkam, hingga membangun posko kampanye semuanya berbau duit.Untuk menutupi biaya itu semua, segala upaya dikerahkan untuk memobilisir dana kampanye dari warga. Ada yang rela menyisihkan rezekinya hingga puluhan juta rupiah, ada pula yang mengais dana kampanye dari uang receh pecahan seribu perak."Kami mengumpulkan sejak bulan puasa tahun lalu. Dari temu kader ke temu kader berikutnya. Ya dapatnya receh, ada yang lima ratus perak, seribu, dan yang paling gede Rp 10.000," kata salah satu anggota tim sukses Cagub Adang-Dani wilayah Koja, Jakarta Utara, Zakki Mustafa (31), saat ditemui di rumahnya, Jl Sindang Lorong R, RT 9/10, Kamis (26/7/2007).Dari kumpulan receh itulah, ia berhasil mengumpulkan duit segepok. Nilainya hingga Rp 27 juta. "Ya saya lagsung transfer ke tim sukses. Sumbangan kader dan simpatisan PKS atau pun Pak Adang," ucap Zakki.Meski demikian, ada saja yang menitipkan sumbangan hingga puluhan juta rupiah. Namun, setelah diberitahu oleh Zaki bahwa untuk sumbangan sebesar itu akan ada audit, penyumbang itu ngeper."Sebelum nyumbang, saya kasih tahu aturannya. Bahwa di atas Rp 2,5 juta akan diaudit. Penyumbang itu nggak jadi dan hanya Rp 2,5 juta saja. Ya kami terima," ucap pria yang sehari-hari berprofesi sebagai sales itu.Berbeda dengan kubu Zakki, Habib Zumanendra (37), langsung menggelontorkan dana basah Rp 15 juta dari kantongnya. Uang sebanyak itu ditransfer langsung melalui rekening salah satu bank BUMN."Saya sumbang ke Pak Fauzi Bowo. Bukan karena partai, tapi karena sosoknya," ucap lelaki yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi yang berkantor di Menara Thamrin, Jakarta Pusat, itu.Menurutnya, sebagai orang profesional seperti dirinya, jumlah seperti itu masih sedikit. Ia juga menggarisbawahi, sumbangannya itu tidak bermotif timbal balik apa pun."Di kantor kami, sehari bisa dapat Rp 100 juta. Itu biasa. Saya juga tidak berharap apa-apa. Ikhlas saja benar-benar untuk Jakarta yang lebih baik," sergahnya ditemui di rumah orangtuanya di Pademangan Timur IV No 23 Jakarta Utara. Namun, ia tidak menolak bila di kemudian hari ada yang ingat jasa sumbangannya. Misalnya memperoleh nasabah/klien dari lingkungan pejabat pemda."Amin, amin, semoga saja begitu. Tapi sejauh ini nggaklah. Nyumbang saja," cetus pria yang tengah menunggui kelahiran anak keduanya.
(Ari/nrl)











































