Seminar Manusia Liang Bua Berakhir Tanpa Kesimpulan
Rabu, 25 Jul 2007 19:16 WIB
Yogyakarta - Seminar internasional paleoantropologi yang membahas masalah manusia Liang Bua atau yang dikenal Homo Floresiensis berakhir. Namun tidak ada kesimpulan dan resolusi.Peserta yang hadir dalam acara itu sepakat terus melakukan kajian secara ilmiah dan terbuka demi perkembangan serta kemajuan ilmu pengetahuan.Hal itu diungkapkan salah satu Steering Committee Prof Dr T Jacob usai acara penutupan International Seminar on Southeast Asian Paleoanthropology (ISSP) di Hotel Hyatt Regency Yogyakarta di Jl Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta, Rabu (25/7/2007)."Memang tidak diambil konklusi atau kesimpulan dalam pertemuan ini. Semuanya kita serahkan kepada peserta untuk menjadi bahan kajian kembali," kata Jacob.Dia mengatakan, dalam pertemuan selama tiga hari ini, semua peserta mengemukakan pendapatnya masing-masing. Utamanya yang berkaitan dengan perkembangan manusia purba dari berbagai disiplin ilmu seperti paleantropologi, paleontologi, arkeologi, antropologi, dan lain-lain. "Apa yang didapat di seminar dapat menjadi bahan pertimbangan setelah peserta pulang ke negara masing-masing," kata Jacob yang didamping Prof Robert B Eckhardt dari The Pennsylvania State University.Menurut Jacob, dalam pertemuan itu berbagai pendapat para ahli banyak bermunculan, terutama mengenai masalah manusia Liang Bua di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ada yang berpendapat manusia Liang Bua masih satu spesies dengan manusia modern sekarang. "Namun ada pula yang berpendapat manusia Liang Bua itu karena mengalami kelainan atau penyakit yakni micro sevali. Semua dibahas termasuk masa hidupnya dengantemuan-temuan tulang belulang dan artefak," kata guru besar Fakultas Kedokteran UGM itu.Ada pula yang berpendapat, sebagai spesies baru Homo Floresiensis dengan alasan dan bukti masing-masing seperti yang diungkapkan Prof Michael J Moorwood dari Universitas Wollongong Australia. Dia mempercayai Homo Floresiensis berbeda dengan Homo Erectus dan Homo Sapiens dengan perbedaan pada bentuk kaki, rahang,tangan, dan otak.Anggota SC lainnya Robert Eckhardt menambahkan, pertemuan ini sengaja tidak ada kesimpulan, namun suasana keterbukaan ilmiah yang lebih diutamakan. Semua ahli dan peneliti mengemukakan pendapatnya masing-masing."Semua saling menghargai. Dan soal manusia Liang Bua kalau anda bertanya mana yang benar, itu tergantung kepada siapa anda akan bertanya. Karena semua punya jawaban dan alasan dengan kajian masing-masing," kata Eckhardt.
(bgs/nvt)











































