PPKPT Teliti Bangkai OV-10
Rabu, 25 Jul 2007 17:55 WIB
Malang - Upaya pengungkapan penyebab kecelakaan pesawat OV-10 Bronco di Desa Bunut Timur, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur berlanjut. Tim Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang (PPKPT) Mabes TNI Angkatan Udara mulai menyelidiki dan mengumpulkan data.Tim PPKPT yang beranggotakan 30 orang ini telah memeriksa posisi pesawat saat jatuh, kondisi parasut, kursi lontar, serta perangkat pesawat lainnya.Namun, untuk penelitian lanjutan tim PPKPT tidak melakukan pemeriksaan langsung di lokasi jatuhnya pesawat, yakni di areal perkebunan tebu. Tetapi, serpihan bangkai pesawat yang tersebar dalam radius 30 meter itu dikumpulkan dan diangkut menuju Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh."Seluruh bagian pesawat didata dan dipindah ke dalam ruangan. Selanjutnya, diatur kembali sesuai dengan posisi pesawat saat jatuh," kata Koordinator PPKPT Marsma Rodi Suprasodjo yang juga menjabat Kepala Dinas Keselamatan Terbang dan Kerja, Rabu (25/7/2007).Selanjutnya, tim PPKPT akan bekerja mendalam untuk meneliti secara detil setiap bagian pesawat untuk menentukan penyebab jatuhnya pesawat buatan Amerika tahun 1976 ini. Data yang dihasilkan dalam investigasi Tim PPKPT ini akan dicocokkan dengan keterangan pilot yang selamat, Mayor (Pnb) Danang Setiyabudi.Rodi menjelaskan, ada lima faktor yang menyebabkan kecelakaan pesawat yakni faktor manusia, peralatan, misi, manajerial, dan media."Kita akan melihat apakah ada peralatan yang berubah, jika ada yang berubah berarti benar akibat kesalahan manusia," terangnya.Sedangkan mengenai kondisi pesawat yang menewaskan Letda (Pnb) Elisieus Quintarumiyarsa, Rodi menyatakan pesawat laik terbang. Kelaikan terbang pesawat itu didasarkan hasil verifikasi terakhir yang dilakukan Mabes TNI Angkatan Udara pada Januari 2007.Hasil yang didapat dari penyelidikan ini, kata Rodi, akan dirapatkan dengan anggota Tim PPKPT dihadapan Dewan Keselamatan Terbang dan Kerja (Bangja) yang dipimpin Wakil KSAU. "Dewan Bangja-lah yang berhak menentukan dan mengeluarkan rekomendasi dari hasil temuan Tim PPKPT ini," ujar Rodi kepada wartawan di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.Rodi juga memuji keputusan Mayor Danang yang menekan tombol kursi lontar dan keluar dari pesawat, meski anak asuhnya harus ikut jatuh bersama pesawat yang dikendalikannya. "Mayor Danang bertindak tepat. Dia mampu membuat keputusan yang cepat dan benar saat dalam kondisi kritis," tutur Rodi.Namun, dia menyangkal bila kursi lontar yang dipakai Elisieus mengalami kemacetan atau tidak berfungsi dengan baik. Karena secara umum, seluruh perangkat di pesawat yang mampu mengangkut bom dan roket ini dalam kondisi laik terbang. "Kedua kursi lontar bekerja dengan baik," kilahnya.
(mar/nvt)











































