3 Versi Kisah Wendi vs Praja IPDN

3 Versi Kisah Wendi vs Praja IPDN

- detikNews
Rabu, 25 Jul 2007 10:40 WIB
Bandung - Insiden kekerasan yang menewaskan Wendi Budiman dan melibatkan praja IPDN masih terus diselidiki polisi. Dalam dua hari ini, muncul tiga versi kisah insiden tersebut.Versi tersebut dibeberkan oleh polisi, Rektor IPDN dan praja IPDN sendiri pada Senin dan Selasa kemarin. Berikut ini rangkuman ketiga versi tersebut. Percaya yang mana, terserah Anda:VERSI POLISISekitar pukul 22.30 WIB, Sabtu (21/7/2007), Wendi Budiman bersama empat temannya, yaitu Imat Rohimat, Ade Hendra, Hardik Akasih, dan Iwan Arifin menuju Pooltime Billiard yang terletak di lantai 3 Jatinangor Town Square (Jatos). Untuk menuju ke tempat biliar itu, Wendi dan kawan-kawan naik lift. Saat naik lift, di dalam lift terdapat para praja IPDN. Meski masuk lift, Wendi tidak memadamkan rokoknya. Tiba-tiba rokok yang dibawa Wendi itu mengenai tengkuk salah seorang praja IPDN, Gondo Widodo. Praja IPDN ini pun marah dan kemudian terjadi pertengkaran hebat di dalam lift. Pintu lift terbuka di lantai tiga, pertengkaran antara Wendi dengan praja IPDN masih berlanjut. Sementara empat teman Wendi memilih kabur dan menghindar, turun dari lantai tiga dengan menuruni tangga. Saat terjadi pertengkaran itu, salah seorang purna praja IPDN Megawati berteriak meminta tolong sambil berlari ke tempat biliar. Kebetulan, saat itu ada beberapa wasana praja yang bermain biliar di tempat itu. Begitu melihat seniornya berkelahi, para wasana praja IPDN ini pun keluar dan ikut mengeroyok Wendi. Setelah beberapa saat dikeroyok, Wendi tersungkur, tergeletak di lantai. Setelah itu, satpam Jatos berdatangan dan melerei pertengkaran itu. Wendi yang babak belur itu kemudian dibawa pulang oleh ketiga temannya. VERSI REKTOR IPDNPlt Rektor IPDN Johanis Kaloh memaparkan, pada saat kejadian, wasana praja diberi izin bermalam di luar kampus karena merupakan minggu terakhir penamatan mereka menjelang kelulusan. Mereka mendapat izin sejak Sabtu 21 Juli 2007 pukul 22.00 WIB dan harus kembali ke kampus Minggu 22 Juli malam.Sementara itu, ada 3 mahasiswi dan 1 mahasiswa program pascasarjana IPDN yang pada saat kejadian ada di mal Jatinangor Town Square. Mereka masuk ke dalam lift. Di lantai 2 masuk 6 orang termasuk Wendi ke dalam lift. Wendi melakukan pelecehan kepada 2 mahasiswi ini dengan menempelkan badannya ke tubuh mereka.Mahasiswa yang bernama Gondo melindungi temannya dan terjadi perkelahian di dalam lift. Saat lift terbuka, mahasiswi ini teriak meminta tolong dan dilihat sejumlah praja. Karena solidaritas, mereka terlibat baku hantam.Karena jumlah praja lebih banyak, teman-teman Wendi melarikan diri. Tak ayal, Wendi pun menjadi bulan-bulanan. Satpam mal sempat melerai mereka. Wendi dibawa ke rumahnya lalu ke dibawa ke rumah sakit pada Minggu 22 Juli malam. Wendi menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit."Kami mengharapkan kasus ini dilihat secara obyektif. Jadi selama ini kesannya Wendi dikeroyok, padahal tidak seperti itu. Kita ingin keseimbangan cerita," ujar Johanis.VERSI PRAJA IPDNTiga purna praja IPDN berupaya meluruskan peristiwa yang sebetulnya terjadi. Ketiga purna praja itu adalah Gondo Widodo, Megawati, dan Andi Irmayanti. Ketiganya menjadi saksi kasus yang kini ditangani Polres Sumedang itu.Dibeberkan Gondo, sekitar pukul 22.00 WIB, Sabtu 21 Juli, dia bersama Mega, Irma, dan Bambang berniat main biliar di lantai 2 pusat pertokoan Jatinangor Town Square (Jatos).Mereka naik lift dari lantai dasar. Setelah sempat tertutup, pintu lift tiba-tiba terbuka lagi. Saat itu masuk 5 orang yang menurut Gondo berpenampilan seperti preman, karena berbau alkohol, rambut dicat warna warni dan telinga mereka memakai anting."Saya melihat gelagat kurang bagus, karena mereka meracau dan mabok berat. Saya lalu ngasih kode kepada Mega dan Irma yang berada di belakang agar berdiri di samping saya," tutur Gondo.Gondo menduga kelima orang tersebut tidak suka dengan tindakannya. Hal itu terbukti salah satu di antara kelima orang itu sengaja menyundutkan rokok di tengkuk Gondo. Hal itu disaksikan Irma.Gondo sempat memperlihatkan luka bekas sundutan rokok tersebut yang menimbulkan luka lecet hitam."Kemudian, entah sengaja atau tidak orang yang menyundutkan rokok ke saya menjatuhkan rokoknya. Karena saya kesal dan sakit, rokok yang jatuh saya injak hingga mati," ujar dia.Kemudian, imbuh Gondo, satu orang yang berdiri di belakangnya, entah yang menyundutnya atau bukan, langsung memiting kepalanya dan memukulinya. Kepala Gondo sempat ditundukkan. Saat itu teman-teman sang pelaku ikut mengeroyoknya.Tiga rekan Gondo tidak bisa berbuat apa-apa karena kejadiannya sangat cepat. Posisi Bambang, menurutnya, juga terhalang orang-orang tersebut.Beberapa saat kemudian lift terbuka di lantai 3, Bambang kemudian menahan pintu lift. Mega dan Irma memanfaatkan kesempatan itu untuk lari ke luar lift. Sementara Bambang berusaha menariknya keluar."Saya berusaha keluar dan saat keluar kepala saya masih dipiting," katanya.Mega dan Irma kemudian berteriak-teriak minta tolong. Gondo kemudian melihat sekelompok orang keluar dari biliar dan menolongnya. "Saya tidak kenal mereka. Saya sendiri langsung diamankan ke ruang biliar," katanya.Gondo mengaku tidak tahu siapa di antara kelima orang yang mengeroyoknya yang bernama Wendi. "Pokoknya yang mukul saya yang paling tinggi dan tangannya panjang," kata dia.Sebelum datang bala bantuan, imbuh Gondo, sekuriti Jatos sempat berupaya melerai. Namun karena si jangkung mabok, pukulan ke kepala Gondo tidak berhenti. Akibat pukulan itu, mata kanan Gondo mengalami luka lebam. Di wajahnya juga terdapat beberapa goresan."Mungkin kalau saya tidak ditolong, sudah mati karena dikeroyok secara brutal," ujarnya.Kesaksian MegawatiPenjelasan Gondo diamini rekannya, Megawati. Mega mengaku panik menyaksikan pengeroyokan terhadap Gondo."Saya panik lalu manggil orang yang ada di biliar karena lihat sekuriti tidak bisa melerai perkelahian. Kami semua kemudian masuk ke biliar," katanya.Setelah itu, imbuh Mega, mereka tidak melihat aksi wasana praja terhadap orang yang kemudian diketahui bernama Wendi Budiman.Di kantor polisi, Mega sempat dipertemukan dengan orang-orang yang satu lift dengannya. Namun dia tidak melihat orang yang telah memiting Gondo."Tapi saat pulang, pas di luar, kita lihat orang yang memiting Gondo sedang duduk-duduk sambil memegang kepala. Dia kelihatan masih sadar," ujarnya. (nrl/umi)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads